Jumat, 04 Mei 2018 13:20 WITA

Jusuf Kalla: Pemilu 2019 Paling Rumit di Dunia

Editor: Mulyadi Abdillah
Jusuf Kalla: Pemilu 2019 Paling Rumit di Dunia
Foto: IST

RAKYATKU.COM - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menilai Pemilu 2019 paling rumit sedunia. Sebab, warga Indonesia akan mencoblos lima kali sekaligus. 

"Harapan kita semuanya bahwa momen-momen yang akan terjadi seperti pemilu, pilkada, pilpres dan pileg bagian dari yang tugas kepolisian yang baik. Kenapa harus lebih profesional? Karena pemilu mendatang adalah pemilu terumit di dunia," ujar JK saat memberi sambutan di acara Apel Kasatwil Polri 2018 di Auditorium PTIK, Jalan Tirtayasa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (4/5/2018).

"Tidak ada negara yang orang harus memilih 5 kali dalam satu waktu, memasukkan kertas ke kotak suara, DPRD tingkat 3, tingkat 2, tingkat 1, kemudian ada DPD, pilpres dan 5 kali yang harus dihitung," kata JK dilansir detik.com.

Menurut JK, hal tersebut membutuhkan waktu perhitungannya dari malam hari hingga pagi hari. Apabila polisi tidak menjamin keamanan yang baik, JK mengatakan akan timbul masalah.

"Selalu saya katakan dalam pencoblosan hampir tidak pernah ada masalah. Tapi yang terjadi masalah dalam perhitungan, di situlah terjadinya konflik beberapa tahun lalu," katanya.

Untuk itu, JK meminta polisi untuk tidak hanya memperketat keamanan saat pencoblosan, tapi juga pada saat perhitungan dan selesai perhitungan.

"Karena kita pemilu paling rumit di dunia ini. Lima kali yang dicoblos dalam satu waktu dan lima kali yang dihitung. Perhitungannya lebih rumit karena sistem terbuka, bukan tertutup. Kalau tertutup paling gampang, kalau tertutup mana partai yang menang ya itu ya mendapatkan suara," kata JK.

"Tapi dalam sistem terbuka, selain partai yang dapat suara, itu juga orang. Itu makan waktu sehingga jeruk makan jeruk, artinya antar partai sendiri berkelahi, jadi inilah yang rumit dalam pemilu yang memerlukan kesiapan dan suatu tindakan yang baik dan adil daripada kepolisian," imbuh JK.

JK juga mengingatkan polisi untuk bersikap adil dalam mengamankan pemilu. JK menyebut 15 dari konflik besar yang pernah terjadi di Indonesia adalah karena ketidakadilan ekonomi dan politik.

"Lima belas konflik besar di Indonesia dalam 70 tahun, 10 kali itu karena ketidakadilan ekonomi, politik dan sebagainya. Polisi menjadi taruhannya, menjaga tingkat keadilan, daripada semua masalah ekonomi politik bangsa ini," ucapnya.