Kamis, 26 April 2018 14:34 WITA

OPINI

Memotret Investasi

Editor: Andi Chaerul Fadli
Memotret Investasi
M Aliem (Statistisi Muda KSK Bungaya, Badan Pusat Statistik Kabupaten Gowa).ist

Investasi menjadi salah satu instrumen yang sangat penting bagi perekonomian suatu negara. Ini sejalan dengan prioritas nasional pemerintah Indonesia pada tahun 2018 yakni program perbaikan iklim investasi dan penciptaan lapangan kerja. Untuk itu, dibutuhkan
data investasi yang terperinci sebagai landasan program pemerintah.

Dalam hal ini, data tersebut sudah dikelompokkan menurut lapangan usaha dan institusi. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah sangat intens memberikan kemudahan dalam pengurusan izin usaha demi menggenjot investasi. Sehingga dipandang perlu untuk menyusun disagregasi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebagai peta bagi para pengusaha.

Para investor membutuhkan peta investasi yang lebih rinci tentang gambaran investasi di Indonesia. Dengan begitu, mereka dapat menyusun rencana investasi yang lebih efektif dan efisien. Apalagi di era perang dagang saat ini. Dimana beberapa negara adi kuasa, seperti
Amerika Serikat yang sudah melakukan kebijakan proteksi ekonomi.

Sebelumnya, data PMTB hanya terdiri dari enam jenis aset pada level nasional yakni, bangunan, mesin dan perlengkapan, kendaraan, peralatan lainnya, Cultivated Biological Resources (CBR) atau sumber daya hayati yang dibudidayakan, dan produk kekayaan intelektual. Sedangkan untuk tingkat provinsi dan kabupaten hanya terdiri dari dua jenis aset, yakni bangunan dan non bangunan.

Penyusunan disagregasi PMTB memang sangat diperlukan, mengingat PMTB merupakan komponen penyumbang pertumbuhan ekonomi. Nantinya, hasil disagregasi PMTB akan merinci aset dalam 44 jenis berdasarkan institusi dan lapangan usaha. Sehingga data PMTB bisa menunjukkan besaran investasi yang dilakukan pemerintah, perusahaan, rumah tangga
dan lembaga non-profit.

PMTB memberikan gambaran besaran investasi. Mengutip dari Katadata.co.id (5/2/2018), Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, investasi yang tercermin dari PMTB pada tahun 2017 tumbuh 6,15 persen. Kontribusi komponen ini terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) yakni 32,16 persen. Pertumbuhan investasi ini ditopang oleh maraknya pembangunan infrastruktur dan investasi swasta seperti pengadaan mesin.

Untuk Sulawesi Selatan, kontribusi komponen PMTB terhadap Pendapatan Domesti Regional Bruto (PDRB) sebesar 37,49 persen. Komponen ini berada pada posisi kedua setelah komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga yang mencapai 53,80 persen. Komponen konsumsi rumah tangga memang masih dominan terhadap kontribusi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, tentunya pemerintah juga terus berusaha
memacu investasi sebagai penggerak roda perekonomian.

Ekonomi Sulsel tumbuh 7,23 persen pada tahun 2017. Dari sisi pengeluaran, komponen PMTB menyumbang angka pertumbuhan sebesar 3,1 persen, diikuti komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 2,89 persen, dan lainnya sebesar 1,2 persen. Data ini
menunjukkan pengaruh investasi sebagai penyumbang pertumbuhan ekonomi tertinggi bagi
Sulawesi Selatan.

Badan Pusat Statistik (BPS) menjawab kebutuhan data investasi dengan menyelenggarakan kegiatan survei penyusunan disagregasi PMTB pada tahun 2018. Nantinya akan dihasilkan data yang lebih terperinci tentang penambahan dan pengurangan barang modal menurut jenis aset tetap, sektor institusi, dan lapangan usaha sebagai dasar untuk perumusan berbagai kebijakan dan analisis secara makro maupun mikro. Tidak hanya itu, data ini juga bisa digunakan dalam penyusunan stok capital pada 2019 mendatang.

Dengan informasi yang jelas dari hasil disagregasi PMTB ini akan memudahkan para investor dalam menentukan jenis investasi apa saja yang akan dilakukan. Dengan begitu, iklim investasi dapat meningkat sesuai target pemerintah. Ini menjadi sangat penting bagi pemerintah yang telah memberikan banyak kemudahan dalam investasi.

Dukungan dari semua pihak dibutuhkan dalam menyukseskan prioritas nasional tahun 2018 yakni “pengembangan dunia usaha dan pariwisata”. Diharapkan dengan tersedianya data yang akurat di bidang investasi bisa berpengaruh positif terhadap penciptaan lapangan kerja. Data ini juga menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah terhadap berbagai program
yang telah dijalankan untuk mempermudah investasi di Indonesia.

Penulis: M Aliem (Statistisi Muda KSK Bungaya, Badan Pusat Statistik Kabupaten Gowa)