Rabu, 25 April 2018 08:27 WITA

Ini Kekuatan Jika Jokowi-Prabowo Berduet, Namun Gerindra Bilang Begini

Editor: Aswad Syam
Ini Kekuatan Jika Jokowi-Prabowo Berduet, Namun Gerindra Bilang Begini
Prabowo memberi hormat, Jokowi membungkuk.

RAKYATKU.COM, JAKARTA - Memang Prabowo jadi rival berat Jokowi pada Pilpres 2014 lalu. Ini diprediksi bakal terulang di Pilpres 2019. Namun, ada juga lembaga survei yang memunculkan skenario keduanya berduet.

Sebagaimana dirangkum detik Rabu (25/4/2018), lembaga survei Poltracking Indonesia, pernah mengkaji duet tersebut. 

Pada simulasi model pertama, Jokowi jadi capres dan Prabowo jadi cawapresnya. Mereka melawan capres Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan cawapres Gatot Nurmantyo. Hasilnya Jokowi-Prabowo menang meraup 50,3% dibanding AHY-Gatot yang meraup 11,6% suara responden. Yang tidak tahu dan tidak menjawab ada 38,1%.

Simulasi kedua, Jokowi-Prabowo versus Gatot-AHY. Tetap Jokowi-Prabowo menang dengan raihan 50,6% melawan Gatot-AHY yang meraih 12,6%. Sisanya tak menjawab.

Survei nasional bertajuk 'Proyeksi Skenario Peta Koalisi Pilpres 2019' ini menggunakan 1.200 responden di 34 provinsi, dilakukan pada 27 Januari sampai 3 Februari 2018, menggunakan metode stratified multistage random sampling. Margin of error survei ini sebesar kurang lebih 2,83%.

Sementara itu, Litbang Kompas juga melakukan hal sama. Pada survei itu, Prabowo adalah kandidat cawapres terkuat Jokowi nomor 2 dengan dukungan 8,8% responden. Sedangkan nomor 1, adalah Jusuf Kalla.

Survei tersebut dilakukan pada 21 Maret hingga 1 April 2018. Survei dilakukan kepada 1.200 secara periodik. Populasi survei adalah warga Indonesia berusia di atas 17 tahun. Responden dipilih secara acak bertingkat di 32 provinsi dan jumlahnya ditentukan secara proporsional. Tingkat kepercayaan survei ini 95 persen dengan margin of error plus minus 2,8 persen.

Menanggapi skenario itu, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ferry Juliantono, mengatakan, skenario tersebut menandakan PDIP dan Jokowi panik.

Ferry mengatakan, Jokowi, sedang mumet memikirkan elektabilitasnya yang turun. Ferry mengutip hasil survei Lembaga Media Survei Nasional (Median). 

"Makanya Jokowi panik dan belakangan sering mengirim utusan dalam rangka penjajakan kemungkinan koalisi, termasuk menjajaki kemungkinan Pak Prabowo berpasangan. Sudah tidak ada yang mau lagi dengan orang yang elektabilitasnya hancur. Apalagi kalau soal ekonomi ini makin krisis, jangan-jangan belum tentu bisa bertahan sampai 2019," ujar dia.

Wakil Sekretaris PKB Daniel Johan, mengatakan, partainya tak masalah soal wacana ini. Namun, Johan khawatir rakyat kecewa terhadap duet tersebut. Sebab, jika duet Jokowi-Prabowo direalisasi, kemungkinan adanya calon tunggal cukup besar.

"Khawatir malah masyarakat kecewa bila calon tunggal dan bagaimana pula respons negara-negara sahabat di dunia," kata Daniel.