Senin, 16 April 2018 16:10 WITA

Elektabilitas Prabowo Menurun, PKS Terang-terangan Usulkan Gatot Nurmantyo

Editor: Abu Asyraf
Elektabilitas Prabowo Menurun, PKS Terang-terangan Usulkan Gatot Nurmantyo
Nasir Djamil

RAKYATKU.COM - Sikap Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mulai terang-terangan. Prabowo Subianto dianggap bukan capres ideal untuk menumbangkan Jokowi pada Pilpres 2019.

Politikus PKS, Nasir Djamil memprediksi Prabowo tidak akan maju sebagai calon presiden. Kemungkinan besar, kata dia, tiket itu diberikan kepada mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang memang banyak mendapat simpati belakangan ini.

Nasir beralasan Pilpres butuh logistik besar. Sementara jauh-jauh hari, Prabowo diisukan tidak lagi memiliki energi besar untuk bertarung di Pilpres 2019. Dia sudah habis-habisan dalam dua Pilpres sebelumnya.

"Bukan saya tidak percaya dengan Prabowo ya, tetapi saya lihat logistiknya di 2014 kemarin sudah terkuras," ujar Nasir di gedung DPR RI, Senayan, Senin (16/4/2018).

Soal pendamping Gatot, Nasir mengatakan harus mampu mendukung kebutuhan logistik dan mendongkrak elektabilitas. "Siapapun capres dari Gerindra, tentu cawapres itu harus mampu menambah elektoral, itu wajib. Bahkan juga bisa membantu secara logistik," tambahnya.

Nasir sendiri menawarkan dua nama yang dianggap paling kuat, yakni mantan Presiden PKS Anies Matta dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Anis Matta punya jaringan yang luas dan punya hubungan yang bagus dengan semua elite politik.

Sedangkan Aher dianggap berprestasi di Jawa Barat. Selain itu, sebagai gubernur di daerah padat penduduk, ikatan emosional dengan rakyatnya bisa membantu pada Pilpres mendatang.

Elektabilitas Prabowo Turun

Menguatnya nama Gatot tidak lepas dari menurunnya elektabilitas Prabowo Subianto. Hasil survei terbaru Media Survei Nasional (Median) yang dilakukan pada 24 Maret-6 April 2018 menunjukkan elektabilitas Jokowi mengalami kenaikan. Sementara Prabowo menurun. 

Elektabilitas Jokowi 36,2 persen. Prabowo tetap berada di posisi kedua dengan tingkat keterpilihan 20,4 persen.

Populasi survei ini adalah seluruh warga Indonesia yang memiliki hak pilih. Sampelnya sebanyak 1200 responden. Margin of error Survei ini adalah plus minus 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. 

Artinya, ada peluang angka survei meleset lebih besar atau kecil sampai 2,9 persen. Sampel dipilih secara random dengan teknik Multisatge Random Sampling dan proporsional atas populasi provinsi dan gender. Sudarto menegaskan survei dibiayai secara mandiri.