Minggu, 15 April 2018 14:12 WITA

From Makasar to Taipei, MMZ Menebar Ide dan Gagasan Tanpa Batas

Editor: Aswad Syam
From Makasar to Taipei, MMZ Menebar Ide dan Gagasan Tanpa Batas
Titin Wongso Taruno membaca "Mengalir Melintasi Zaman" di tepi Danau Daan Park, Taipei.

SEKITAR pukul 10 pagi dikagetkan dengan suara dering telepon. Ternyata setelah diangkat di seberang sana menggunakan bahasa mandarin yang menanyakan: 
"Apakah kamu tinggal di kampus Chungwa-tase, di Da Ya-dormitory? Jika iya, tolong segera turun ke bawah, ada sebuah paketan untukmu, aku tunggu di depan pintu."
Dengan segera memakai kerudung pun kuberlari turun ke lantai 6, kemudian membuka pintu depan.

"Apakah kamu benar Titin, ini ada sebuah paket untukmu dari Makasar Indonesia," kata Pak Pos yang baik hati.

"Xie xie ni" setelah mengucapkan terima kasih segera kuberlari kembali ke kamar dan tak sabar membuka paketan itu. Alhamdulillah ternyata paketan tersebut sebuah buku dari Prof Dr. A. Arsunan Arsin. Dengan segera kukabari beliau bahwa buku karya beliau telah kuterima dengan baik.

Sebenarnya saat itu ingin sekali segera membaca, karena sangat penasaran dengan isinya. Tapi karena data yang tak bisa dianulir untuk diselesaikan, harus tertunda untuk membacanya.

Hadirnya buku beliau Mengalir Melintasi Zaman, Menebar Ide dan Gagasan tanpa Batas, membawa sebuah motivasi tersendiri, di tengah perjuangan dan kegalauan untuk menyelesaikan di negeri formosa seorang diri.

Setelah membaca buku beliau, jadi ikut merasakan bagaimana kisah kehidupan beliau. Ada beberapa kesamaan cerita kehidupan beliau yang membuat saya antusias membaca, ada beberapa tulisan yang mengutip dari Chairil Anwar yang selama ini puisinya membuatku untuk tetap bertahan, walaupun terkadang ingin menyerah, tetapi puisi perjuangan yang berjudul Aku, mengobarkan semangat juang kembali. Selain itu bagaimana kisah awal beliau menjadi dosen.

Membaca lembar ke lembar lainnya, baru mengetahui bahwa Pendidikan S2 beliau IKD di UNAIR satu almamater denganku, alhamdulillah aku dipertemukan karya beliau ketika dalam fase juang, dan tak tupa terima kasih pada mbak Sriyana Herman yang juga satu angkatan waktu belajar S2 yang telah memperkenalkan. 

Wow.... cool!!! di usia beliau 44 tahun sudah mendapatkan jabatan fungsional gelar akademik Profesor. Profesor merupakan jabatan tertinggi untuk seorang akademisi. Hal ini memompa semangatku untuk meneladani kisah kehidupan beliau. Dan sekarang 12 tahun dari setelah gelar tersebut, bisa membaca kisah inspiratif beliau.

"Dunia itu seluas langkah kaki. Jelajahilah dan jangan pernah takut melangkah. Hanya dengan itu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengan dengannya" (Soe Hok Gie) dalam bab Buku, Gie dan Perburuan Bacaan di Kontrakan Kawan. 

Buku adalah jendela ilmu, benarlah pepatah tersebut mengatakan. Karena dengan hobinya beliau membaca, mengantarkan beliau seperti sekarang ini. Selain membangkitkan semangat juang, solidaritas, bakti dan kecintaan beliau kepada Negaranya. 

"Bersikaplah seperti air yang mengalir" di Spirit Sungai Walannae. Sungguh sangat memberikan kesan yang mendalam untuk menjawab tantangan kehidupan yang fluktuatif setiap harinya, agar kita bisa mengontrol diri dan lebih bijak dikehidupan nanti. 

Terima kasih Prof Arsunan Arsin, kisah kehidupan dan karya njenengan sangat menginspirasi di tengah kegalauan dan perjuangan saya untuk menyelesaikan studi saat ini.

Inginnya di tepi sungai Walannae, tapi apa ada daya yang ada di tepi Danau Daan Park Taipei, diiringi kicauan burung dan suara indah alam semesta bersatu bergelora dalam semangat karya beliau "Mengalir Melintasi Zaman, seperti air mengalir, saya ingin menebar semangat ide, dan gagasan tanpa batas" (Arsin A, 219)

#Keepfighting
Taipei, 14 April 2018
Titin Wongso Taruno