Minggu, 15 April 2018 10:00 WITA

Jokowi: Mengkritik dengan Mencela Beda Lho

Editor: Nur Hidayat Said
Jokowi: Mengkritik dengan Mencela Beda Lho
Presiden RI Joko Widodo. (Sumber Foto: Merdeka)

RAKYATKU.COM, SEMARANG - Kritik terhadap pemerintah jadi salah satu pembahasan Presiden RI Joko Widodo saat berbicara di depan para penyuluh agama di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (14/4/2018). 

Jokowi berujar, kerap kali kritikan diterimanya tanpa data dan tidak pula ada solusi yang ditawarkan. "Kita ini kadang sering tidak bisa membedakan mana yang kritik dan mana yang mencela. Beda lho itu. Mana yang kritik dan mana yang mencemooh, mana yang kritik dan mana yang menjelek-jelekkan," ucap Jokowi
diberitakan Kompas.com.

Jokowi lalu menjelaskan perbedaan antara kritik dan celaan. Menurut dia, kritik tanpa data dan solusi, hanyalah sebuah celaan atau cemoohan. Apalagi disampaikan dengan menjelek-jelekkan. "Kritik itu harus ada basis datanya dan memberi solusi. Kalau tidak ya itu namanya mencemooh," ungkapnya. 

Sebelumnya, Jokowi menuturkan Indonesia adalah negara besar. Buktinya adalah panjangnya waktu tempuh dari satu wilayah ke wilayah lainnya, misalnya pengalamannya terbang dari Aceh ke Wamena, Papua. 

"Saya terbang ke Banda Aceh ke Wamena itu berapa (lama)? 9 jam 15 menit. Itu setara London ke Istanbul melewati 6-7 negara," ujar Jokowi pada acara yang sama. "Ini negara besar. Itu kalau jalan kaki berapa tahun?" tambahnya lalu disambut tepuk tangan para peserta.

Sebagai negara besar, lanjut dia, Indonesia masih memiliki tantangan dalam masalah kemiskinan, ketimpangan hingga kesenjangan sosial. Hal ini bisa dilihat dari pembangunan infrastruktur di wilayah Indonesia barat, tengah, dan timur. 

Di Indonesia timur, menurut Jokowi, kondisi infrastruktur jauh dari layak. Konektivitas antar wilayah belum terbangun dengan baik, seperti halnya di Pulau Jawa. 

Kepada para peserta, Jokowi menunjukkan gambar jalan utama di Papua yang masih berupa jalan tanah. Ketika hujan, jalan itu menjadi rusak dan becek. "Jangan hanya lihat di Jateng. Di Papua, jalan tadi yang belum diaspal. 60 km itu butuh waktu 3 hari, memasak di tengah hutan," ucapnya.