Jumat, 13 April 2018 21:11 WITA

Citizen Report

Pak Ogah Berpesta, Pengguna Jalan Meradang, Petugas Mana?

Editor: Adil Patawai Anar
Pak Ogah Berpesta, Pengguna Jalan Meradang, Petugas Mana?
Ilustrasi macet.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Kemacetan lalu lintas di Kota Makassar dari hari ke hari semakin parah. Tingginya pertumbuhan kendaraan bermotor dengan tata kelola Manajemen Rekayasa Lalu Lintas (MRLL) yang tidak ideal. Ditambah budaya berlalu lintas yang tidak mau mengalah menjadikan titik macet di Kota Makasar semakin menjadi-jadi.

Tidak hanya di jalan-jalan utama, tapi jalan-jalan kecil pun menjadi sasaran macet. Apalagi jika masyarakat sekitar ruas jalan menjadikan jalan sebagai aktivitas keramaian seperti  pengantin dan sebagainya. 

Sebebas itukah masyarakat dalam memanfaatkan badan jalan yang bukan menjadi haknya?

Menyoal kemacetan yang tak kunjung hilang dari momok pengguna jalan sudah tidak dapat dihindari. Tadi saja di Jalan Perintis Kemerdekaan sampai depan Kantor Kehutanan macet total, Jumat (13/5/2018). Tak ayal beberapa masyarakat tertunda perjalanannya. 

Sebut saja Amran terpaksa harus ditinggal pesawat yang akan menerbangkannya ke luar Makassar akibat macet parah yang terjadi siang tadi.

Sementara petugas juga sudah jarang terlihat. Paling banyak ditemui di setiap ruas jalan yang potensi macet seperti pertigaan, putaran dan akses-akses  jalan adalah Palimbang-limbang alias Pak Ogah.

Kelihatannya pengaturan lalu lintas sudah beralih fungsi dari petugas yang berwewenang ke anak-anak jalanan yang seolah menjadi 'penguasa' dan lebih memiliki kewenangan dan kepedulian untuk mengatur.   

Sayangnya, kehadirannya yang semakin menjamur bukan tidak beralasan karena mereka mendapatkan keuntungan alias mengais rezeki dari orang-orang yang egois dan tak mau mengalah demi mengandalkan uang Rp 1000.

Kehadiran Pak Ogah di jalan seolah mendapat legitimasi karena kehadirannya seolah tidak ada kepedulian. Seolah pembiaran dari aparat yang bertanggung jawab untuk menghilangkannya di jalan. 

Yang jadi pertanyaan adalah mengapa ini dibiarkan? Entahlah yang pasti jika ini tidak dilakukan upaya penanganan maka bukan tidak mungkin dampak sosial serta ekonomi akan hadir. Mr Rp 1.000 akan menjadi Mr Rp.5.000 bahkan Rp.10.000. Tergantung kepentingan orang yang mau lancar dan siapa yang menuntunnya.

Selamat bermacet ria atas buruknya MRLL di ruas-ruas jalan kita dan hilangnya kepedulian serta nilai sipakatau alias budaya mengalah hanya untuk kepentingan sesaat dengan anggapan dapat melancarkan perjalanan tapi malah menimbulkan kemacetan parah.

Penulis: Warga Kota Makassar