Rabu, 11 April 2018 14:21 WITA

OPINI

Pilkada Sidrap, Antara Fakta dan Ironi

Editor: Aswad Syam
Pilkada Sidrap, Antara Fakta dan Ironi
Hasmawati Salehe

"Suhu politik kian memanas, tapi rakyat tak boleh melampaui batas. Pilkada harus jadi pemersatu, bukan pemecah belah rakyat. Sebab tujuan kita satu, pilih pemimpin berintegritas, mau mendedikasikan diri untuk rakyat."

DI ANTARA beberapa gelaran Pilkada di Sulawesi Selatan tahun ini, Pilkada Sidrap menjadi pesta demokrasi yang cukup disorot. Dua pasangan calon yang bertarung pada pilkada yang akan dihelat 27 Juni 2018 mendatang itu adalah FATMA (Fatmawati Rusdi-Abdul Majid), dan DOAMU (Dollah Mando-Mahmud Yusuf).

Fakta dan Hal-hal yang Tak Terbantahkan
Aksi saling mengunggulkan calon dan klaim atas berbagai keberhasilan yang dicapai pemerintah oleh tim dan kelompok pendukung masing-masing calon, kian riuh dan tak bisa dielakkan. 

Tim dan kelompok pendukung FATMA mengklaim, bahwa tak ada sosok yang lebih layak melanjutkan pembangunan di Bumi Nene’ Mallomo ini selain Fatmawati Rusdi. Ini tentu tidak salah. Pasalnya, Fatma, istri Rusdi Masse yang merupakan Bupati dan Ketua DPW Nasdem Sulsel itu, bukan hanya Ketua Tim Penggerak PKK Sidrap tapi juga seorang legislator DPR RI. 

Ia dianggap memiliki andil dalam beberapa proyek dan program yang ada di Sidrap. Ia adalah bagian dari berbagai capaian pemerintahan hari ini. 

Tapi masyarakat tentu tidak lupa, Dollah Mando adalah Wakil Bupati, tak hanya satu periode tapi dua periode. Di antara beberapa kebijakan dan program yang berujung keberhasilan, tentu tak lepas dari perannya, sebab kepemimpinan daerah sejatinya bersifat kolektif. 

Baik Fatmawati Rusdi maupun Dollah Mando memiliki kapasitas yang memungkinkan mereka untuk memberikan kontribusi terbaiknya. Kehadiran Fatmawati sebagai kontestan di gelaran Pilkada Sidrap tahun ini, tentu bukanlah sesuatu yang biasa. Ia adalah pewarna sejarah. 

Sementara Dollah Mando, di usianya yang tak lagi muda dan setelah pengabdian panjang dari awal kariernya sebagai aparat pemerintahan, hingga menjadi Wakil Bupati selama dua periode, tak lantas membuatnya merasa puas untuk terus berbuat dan mendedikasikan diri bagi daerah ini. Sejatinya, ia adalah pengabdi.

Ironi dan Sebuah Keharusan
Hari ini, masyarakat dituntut untuk lebih jeli dalam memilah dan memilih. Karena itu, masyarakat harus bisa berpikir dengan jernih, objektif dalam memberikan penilaian dan tidak abai pada berbagai fakta yang ada, apalagi terprovokasi. 

Hari-hari sebelum hari pemilihan tiba, mestilah digunakan sebaik-baiknya untuk menggali informasi, mengenal lebih jauh para calon dengan menelusuri rekam jejak dan mencermati visi yang ditawarkannya, agar tak keliru menentukan pilihan dan meratapi diri di kemudian hari. 

Pilkada Sidrap hari ini mestilah menjadi ajang adu gagasan untuk membawa daerah ini menuju masa depan yang lebih baik, sembari memberikan pencerahan politik kepada masyarakat. Sebisa mungkin, masyarakat harus dijauhkan dari hal-hal yang kontra produktif, dan berpotensi mencederai demokrasi. Berbagai bentuk kericuhan yang terjadi beberapa waktu terakhir tentu merupakan sebuah ironi. 

Aksi perusakan, saling menjatuhkan, adu mulut apalagi fisik yang berujung kekacauan mestilah diminimalisir, bahkan jika mungkin ditiadakan. Ia tidak akan menghasilkan apa-apa selain perpecahan. 

Dua pasangan calon peserta Pilkada Sidrap adalah putra-putri terbaik daerah ini. Siapapun kelak yang terpilih, masyarakat mesti turut bersamanya, memberikan dukungan dan pengawasan untuk memastikan pemerintahan berjalan dengan baik dan tidak menyimpang. 

Pilihan boleh berbeda tapi tujuan semestinyalah sama, masa depan daerah. Masing-masing pihak mesti bersepakat untuk benar-benar menjadikan Pilkada damai sebagai sebuah kenyataan, bukan hanya slogan.

Penulis: Hasmawati Salehe
Founder of Panrita Foundation / Mantan Ketua KOHATI HMI Cabang Sidrap
E-mail: hasmawati.panrita@yahoo.com.