Selasa, 10 April 2018 22:06 WITA

Analisis Strukturalisme Genetik Terhadap Buku MMZ Karya Prof Andi Arsunan Arsin

Editor: Abu Asyraf
Analisis Strukturalisme Genetik Terhadap Buku MMZ Karya Prof Andi Arsunan Arsin
Prof Dr drg Andi Arsunan Arsin

Lucien Goldmann, seorang penganut teori Strukturalisme genetik (genetic structuralism), menjelaskan adanya kaitan sebuah wacana dengan struktur pandangan dunia sebuah masyarakat. 

Goldmann memercayai adanya homologi antara struktur sebuah wacana dengan
struktur masyarakat, karena keduanya merupakan produk dari aktivitas dan stuktur yang sama.

Namun hubungan antara masyarakat dan struktur sebuah wacana, tidak bersifat determinative, tetapi melalui sebuah wacana. Pendekatan strukturalisme genetik, juga telah saya gunakan dalam menganalisis karya sastra di negeri Nelson Mandela, Afrika Selatan. 

Saya telah menganalisis wacana sastra, dalam sebuah skripsi S1 dengan judul “Rasisme di Afrika Afrika Selatan; sebuah pendekatan Strukturalisme Genetik, studi terhadap Novel Cry Beloved Country” (1996).

Cara mudah menganalisa literatur dengan stukturalisme genetik dapat dirumuskan menjadi tiga tahap. Pertama, analisis elemen intrinsik dari sebuah wacana, sebagai data dasar analisis. Kedua, analisis bakground penulis, kepribadian, gaya, ideologi, dan norma yang mempengaruhi karyanya. 

Ketiga, menganalisa latar belakang sosial budaya dan sejarah tempat wacana dibuat
oleh penulis. Pandangan dunia merupakan istilah yang cocok bagi kompleks menyeluruh dari gagasangagasan, aspirasi-aspirasi dan perasaan-perasaan yang menghubungkan secara bersama-sama anggota-anggota suatu kelompok sosial yang lain. 

Sebagai suatu kesadaran kolektif pandangan dunia itu berkembang sebagai hasil dari situasi sosial dan ekonomi tertentu yang dihadapi oleh subjek kolektif yang memilikinya. Saya ingin melihat wacana pada buku MMZ ini dalam perspektif ini.

Lingkungan sosial yang membangun cara pandang dunia seorang Arsunan adalah sebagai berikut: 

1. Lingkungan keluarga, guru, bangsawan 
2. Lingkungan sosial ekonomi yang sederhana, tetapi makmur, di Soppeng ketika itu adalah pusat produksi dan perdagangan tembakau di wilayah timur Indonesia
3. Kehidupan kampus yang penuh pergolakan di masa kuliah
4. Kehidupan akademis di Unhas yang sangat kompetitif sekaligus kampus paling
bergengsi di Indonesia timur. 

Semua ini membangun cara pandang dunia seorang Arsunan Arsin. Dan itulah yang yang secara totalitas terbangun dalam wacana pada buku MMZ. Soppeng ketika Arsunan lahir dan tumbuh, dapat disebut sebagai era pertumbuhan kapitalisme
awal di tanah Bugis. 

Muncul berbagai usaha-usaha baru yang berbasis produksi massal. Sepanjang Sungai Walannae – tempat Arsunan bermain-main – ketika berubah menjadi
ladang tembakau dan murai yang sangat luas. 

Hasilnya, dijadikan bahan baku rokok yang ketika itu dikonsumsi hampir seluruh jazirah Sulawesi bahkan Indonesia timur serta produksi kain sutra yang merupakan bahan baku tenun sutra di Kabupaten Wajo. 

Implikasi dari pertumbuhan kapitalisme awal di Soppeng dan Wajo tersebut, memunculkan kohesi sosial baru, dimana muncul kelas sosial baru, kelas pengusaha, yang memunculkan kekuatan ekonomi baru, yang tadinya hanya didominasi kaum bangsawan. 

Pada posisi ini, membuat keluarga Arsunan menggeliat. Keluarganya yang berlatar guru sekaligus bangsawan, termotivasi untuk mentranformasi dirinya untuk mengatasi persaingan baru. Tidak ada cara lain, Arsunan harus sekolah, kira-kira itulah cara pandang dunia dari orang tuanya saat itu. 

Inilah cara pandang yang mendorongnya hingga ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan pada akhirnya, lolos masuk di Universitas Hasanuddin, sebagai kampus paling berkelas, dan menjadi kebanggaan banyak orang.

Cara pandang dunia Arsunan tidak saja berhenti, pada sekadar belajar di kampus, motivasi untuk melakukan mobilitas sosial justru semakin meningkat saat memasuki universitas. Muncul keinginan untuk terlibat jauh dalam menjalin interaksi dengan lingkungan kampus yang lebih luas. 

Dari proses ini, terbangun cara pandang dunia yang lebih kaya, lebih kompleks, dan lebih peduli terhadap realitas sosial, lebih peduli terhadap alam, dan lebih peduli terhadap sesama.

Cara pandang dunia yang baru ini, turut menjadikan Arsunan seorang aktivis mahasiswa, yang cukup disegani ketika itu. Sempat menjadi ketua senat mahasiswa, aktivis pergerakan, aktivis HMI, pendiri dan ketua Korpala Unhas, menjadi wartawan koran kampus Identitas, dan sebagainya. 

Ini semua adalah refleksi dari cara pandang dunia yang peduli terhadap realitas,
terhadap alam, terhadap manusia. Singkatnya, sebagai seorang aktivis, Arsunan tidak ingin hanya sekadar lulus dan dapat ijazah.

Cara pandang dunia yang terbangun sejak dia di Soppeng dan di Unhas, membuatnya lebih progresif. Menjadi seorang profesor, tidak membuatnya duduk di menara gading. Beliau melibatkan diri pada berbagai kegiatan, baik pada kegiatan pada pengembangan akademik, kemahasiswaan, pengabdian masyarakat, dan sebagainya. 

Beliau masih senantiasa membangun hubungan dengan masyarakat, kampus maupun luar kampus, dan memberi kontribusi positif di situ. Salah seorang yang saat ini yang dianggap dapat menjembatani antara berbagai komponen mantan aktivis adalah Arsunan. 

Beliau masih rajin berkumpul bersama para mantan aktivis mahasiswa, baik senior maupun junior masih seringkali menjadi narasumber pada berbagai kegiatan mahasiswa antar fakultas. Tak diragukan lagi, ia sosok yang dapat jembatan
komunikasi antara elemen-elemen sivitas akademik, utamanya elemen kemahasiswaan, baik organisasi intren maupun organisasi ekstern, dan juga para alumni. 

Tentunya, Arsunan akan semakin meningkatkan pengabdiannya, baik bagi Unhas, maupun masyarakat luas.

Penulis: 
A Ilham Paulangi
-Ketua Senat Mahasiswa FIB Unhas 1989-1990 
-Ketua Tim Perumus PDO dan Ketua Deklarator Senat Mahasiwa Unhas tahun 1990
-Pemimpin Rekasi Tamalanrea Pos Unhas 1991-1992
-Pendiri dan Pemimpin Umum Majalah Lektura FIB Unhas