Jumat, 23 Maret 2018 10:40 WITA

Kisah Ahdan Latif, Bayi Mungil Penderita Hidrosefalus

Penulis: Sartika Marzuki
Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Kisah Ahdan Latif, Bayi Mungil Penderita Hidrosefalus
Bayi Ahdan Latif Azifan terbaring di ruang UGD RS Wahidin Sudirohusodo.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Ahdan Latif Azifan, bayi mungil yang baru menginjak usia 19 bulan itu kini terbaring lemah di ruang UGD RS Wahidin Sudirohusodo. Ia divonis mengidap hidrosefalus, penyakit yang disebabkan oleh penumpukan cairan di rongga otak.

Dirujuk dari RSUD Siwa, Kabupaten Wajo, anak bungsu dari lima bersaudara ini tiba bersama kedua orang tua dan kakak perempuannya, sekitar pukul 17.00 Wita, Kamis (22/3/2018).

Diselimuti sarung batik tipis dan sehelai handuk berwarna merah, Ahdan tampak lemah dengan selang oksigen dan jarum infus yang terpasang ditubuh kurusnya.

Sang kakak, Rika Mandasari menuturkan, kepala Ahdan mulai membengkak saat berusia tiga bulan. Awalnya hanya sebesar kelapa, namun perlahan semakin membesar hingga berukuran tabung gas melon. 

Karena kulit kepalanya masih tipis, pembengkakan itu membuat urat-urat kepalanya terlihat dengan jelas. Bahkan ada luka lebar disana. Mata Ahdan juga terus memandang ke bawah.

"Setelah kepalanya membesar, Ahdan terus sakit-sakitan. Karena keterbatasan ekonomi, keluarga kami hanya bisa mengupayakan pengobatan tradisional. Saat itu ada perubahan, ia mulai jarang demam. Tapi ternyata cuma beberapa hari saja, setelah itu kondisi Ahdan kembali menurun, kita pasrah," kata dia pada Rakyatku.com.

Keluarga tidak bisa berbuat banyak. Pengobatan tradisional tetap menjadi satu-satunya pilihan. Namun karena kepalanya terus membengkak. Ahdan akhirnya dibawa ke rumah sakit yang terdapat di Kecamatan Pitumpanua. Peralatan yang kurang memadai, membuat Ahdan akhirnya dirujuk ke RS Wahidin Sudirohusodo.

"Saat ini Ahdan masih di dalam tahap pemeriksaan. Tapi kata dokter harus segera dioperasi. Karena kondisi kepalanya sudah terlalu parah. Cairan dalam rongga kepalanya harus secepatnya dikeluarkan," ungkap Rika.

Beruntung, pengobatan Ahdan terbantu dengan program BPJS Kesehatan dari pemerintah, Jaminan Kesehatan Nasional - Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Akan tetapi, tidak semua keperluan Ahdan bisa ditanggung. Ada obat-obatan yang harus dibeli, serta biaya hidup keluarga selama berada di Kota Makassar.

Supervisor Sakti Pekerja Sosial (Peksos) Kementerian Sosial Republik Indonesia Sulawesi Selatan, Norman Ilmi yang ikut mendampingi Ahdan mengatakan, pihaknya belum mendapat informasi sejauh mana biaya pengobatan Ahdan dapat ditanggung BPJS.

"Kami sudah mendapat persetujuan dari orangtua Ahdan. Sehingga Sakti Peksos bisa mencarikan donatur diluar bantun pemerintah. Tapi kami masih menunggu nomor rekening dari Peksos Wajo. Jadi untuk saat ini, bantuan bisa langsung diserahkan secara langsung kepada keluarga Ahdan," ungkap Norman.

Bagi yang ingin memberikan bantuan, dapat menghubungi keluarga Ahdan via telepon di 085298423551, atau langsung menjenguk ke UGD RS Wahidin Sudirohusodo, Jalan Perintis Kemerdekaan.
 

Tags