Selasa, 20 Maret 2018 02:47 WITA

Polwan Cantik Ini Beber Kisah Sejam Jadi PSK

Editor: Aswad Syam
Polwan Cantik Ini Beber Kisah Sejam Jadi PSK
Bripda Fitria dan Brigadir Popy, dua polwan yang sempat menyamar sebagai PSK di Bali. Sumber: Kompas.

RAKYATKU.COM, GARUT - Menyamar adalah satu dari sekian banyak tugas yang harus dilakukan pihak kepolisian dalam urusan menguak suatu masalah.

Tak hanya polisi lelaki, polisi wanita pun harus mendapatkan peran ini. 

Mereka terkadang harus melakukan sesuatu yang lebih berani dan tampil di luar kebiasaan demi tuntutan tugas. 

Dua Polwan cantik dari Satreskrim Polres Garut menyamar sebagai pekerja seks komersial (PSK) di salah satu tempat hiburan di Bali.

Adalah Brigadir Popy Puspasari dan Bripda Fitria Oktavia, yang kemudian berhasil mengungkap jaringan sindikat perdagangan orang untuk dipekerjakan menjadi PSK itu.

Mereka berani masuk tempat hiburan tersebut dengan menyamar menjadi PSK.

Dua penyidik di unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Garut tersebut menggunakan nama samaran Dewi untuk Brigadir Popy dan Bella untuk Bripda Fitria.

Berkat keduanya, praktik prostitusi dan perdagangan orang di tempat hiburan tersebut terungkap.

"Awalnya masuk ke sana diwawancara dulu sama karyawan di sana," kata Popy saat ditemui di Mapolres Garut, Jawa Barat seperti dilansir posbelitung.co, Selasa (20/3/2018).

Selama proses wawancara, Popi ditanya mengenai kesiapannya menjadi PSK di tempat hiburan tersebut. 

"Setelah diwawancara dan saya menyatakan siap, kemudian disuruh istirahat di kamar," katanya.

Dia mengaku tidak terlalu lama berada di dalam tempat hiburan tersebut.

Setelah itu, dia langsung menghubungi tim Satreskrim Polres Garut pimpinan Kasatreskrim AKP Aulia Djabar yang telah berada di dekat tempat hiburan tersebut.

"Jadi enggak lama, enggak sampai disuruh melayani tamu," ujar Popy.

Ia mengaku sempat ketakutan ketika akan menyamar menjadi PSK.

Namun, karena ada tim Satreskrim Polres Garut yang mendampingi, dirinya merasa lebih tenang.

Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna mengatakan, pihaknya menugaskan dua anggotanya untuk melakukan penyamaran.

Begitu dipastikan ada praktik perdagangan orang dan prostitusi, petugas langsung masuk melakukan penyergapan.

"Jadi enggak lama menyamarnya, paling 1 jam lebih," kata Budi.