Sabtu, 17 Maret 2018 18:06 WITA

Tahanan yang Dilarang Jenguk Jenazah Anak, AF: Substansi Utama UU Bernama Kemanusiaan

Editor: Aswad Syam
Tahanan yang Dilarang Jenguk Jenazah Anak, AF: Substansi Utama UU Bernama Kemanusiaan
Akbar Faizal saat wawancara dengan jurnalis. Sumber: Facebook.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Peristiwa tahanan Lapas Bone yang dilarang menjenguk jenazah anaknya sehingga keluarga membawa jenazah ke Lapas, mendapat respons dari anggota Komisi III DPR RI yang membidangi masalah hukum, Akbar Faizal.

Dalam pernyataan yang diunggah di Facebook, legislator asal Sulsel itu mengaku marah. "Peristiwa seperti ini membuatku marah, sakit dan tak habis pikir," ungkapnya. 

Dia mengaku menerima banyak telepon dan tag di media sosial terkait kisah tahanan Lapas Bone Sulsel bernama Syamsu Alam yang tak diperbolehkan pulang sesaat untuk melihat jenazah anaknya.

Atas informasi itu, Akbar kemudian menghubungi Sahabuddin Kilkoda yang menjabat Kakanwil Kemenkumham Sulsel. Sahabuddin mengaku baru tahu peristiwa itu dari dirinya dan meminta dikirimkan link di FB ini kepadanya. 

Beberapa saat kemudian, Kilkoda menelepon balik Akbar dan mengaku sudah menghubungi Kalapas Bone, Lukman. "Pak Akbar, saya sudah hubungi pak Lukman Kalapas Bone, dan mendapat penjelasan bahwa tahanan yang anaknya meninggal dunia itu masih dalam status titipan hakim. 

Sesuai aturan, pihak Lapas harus mendapat ijin dari pihak pengadilan sebagai penanggung jawab dari tahanan titipan itu. Namun, sesuai aturan internal pula, ketua pengadilan Bone meminta pihak keluarga mendapat ijin langsung dari majelis hakim yang mengadili si tahanan yang bernama Syamsu Alam, atas kasus penikaman. Sayangnya, pihak keluarga tak berhasil menemui atau mendapatkan ijin dari majelis hakim," tulis Akbar menirukan perkataan Kilkoda.

Loading...

Tak lama berselang, Kalapas Bone Lukman, juga menelepon Akbar dan menjelaskan hal yang sama. "Saya tentu saja harus paham mekanisme internal Lapas ini. Tapi kepada kedua pejabat terkait ini, saya menjelaskan 'posisi' mekanisme tata aturan dan prosedur ini jauh berada di bawah level substansi utama dari seluruh produk UU yang bernama 'Kemanusiaan'. Saya menegur keras kedua pejabat ini. Saudara Sahabuddin Kilkoda sebagai Kakanwil merasa frustrasi atas tindakan anak buahnya, yang takut mengambil keputusan dan melangkahi tata aturan baku itu, dan berjanji akan segera mengumpulkan seluruh jajarannya se-Sulsel untuk menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran sangat berharga," tulis Akbar diakun facebooknya.

Sementara Lukman sebagai Kalapas Bone kata Akbar, juga meminta maaf atas ketidakberanian dia mengambil tindakan yang lebih berani melangkahi tata aturan itu, dan berjanji tidak akan terjadi lagi peristiwa ini.

"Saya berjanji akan menjadikan peristiwa ini sebagai pelajaran berharga. Terima kasih pak Akbar telah menegur kami dan menunjukkan sisi lain dari penegakan hukum," tulis Akbar menirukan perkataan Lukman.

"Kepada konstituen saya di Sulsel dan terkhusus di Bone, demikian tindakan dan langkah yang saya ambil atas pengaduan dari warga saya, berdasarkan video viral perstiwa memilukan ini. Mari saling menjaga dan mengingatkan agar rasa kemanusiaan kita tak pernah lari meninggalkan hati kita masing-masing. Wassalam," tulis Akbar lagi.

Loading...
Loading...