Rabu, 14 Maret 2018 19:38 WITA

Kapal Nelayan Terbalik di Area CPI, Salah Pengembang?

Editor: Mulyadi Abdillah
Kapal Nelayan Terbalik di Area CPI, Salah Pengembang?
Alita Karen saat menceritakan kondisi nelayan di area reklamasi CPI, Rabu (14/3/2018).

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Usaha para nelayan pasca mendapat ikan di laut berujung sia-sia. Kapal yang digunakan terbalik saat melewati kolong jembatan di Center Point of Indonesia (CPI) pada Rabu, (14/3/2018).

"Kejadiannya tadi subuh saat hujan deras. Ada 8 nelayan dari melaut dan ada 4 kapal nelayan rusak karena terbalik. Jalur kapal mendangkal dan menyempit sehingga membuat arus kencang," ungkap Aktivis Koalisi Perempuan Indonesia (KPI), Alita Karen.

Alita yang mendampingi para nelayan mengaku telah bertemu dan melakukan komunikasi dengan pihak pengembang. Alhasil dari pertemuan tersebut, pihak pengembang akan mengganti kapal nelayan yang rusak. 

Selain itu, pihak pengembang juga segera melakukan pengerukan jalur kapal nelayan yang mendangkal akibat pembangunan CPI.

"Kami sudah ketemu dengan pengembang dan mereka bersiap mengganti kapal yang rusak. Pihaknya juga akan pengerukan jalur kapal yang mendangkal, mulai besok," tambahnya.

Alita menyebut, insiden kapal terbalik sering dialami para nelayan sejak jalur kapal menyempit dan mendangkal. Namun Alita mengatakan, kejadian tadi subuh merupakan kejadian dengan jumlah kapal terbanyak, bahkan nyari menelan korban jiwa.

"Sebelum-sebelumnya juga sudah ada kejadian tapi tadi subuh yang paling banyak kapal. Bahkan ada anak nelayan yang ikut hampir mati karena dia di berada di bawa saat kapal terbalik," tambahnya.

Sementara itu, Yusuf yang merupakan Ketua nelayan Kelurahan Bonto Rannu Kecamatan Mariso mengatakan, pihaknya telah lama menyampaikan protes kepada pengembang namun tidak pernah diindahkan.

"Saat nelayan pulang melaut terhambat karena terjadi pendangkalan. Dulu banyak akses namun sudah ditutup, yang dulu longgar sekarang tambah mengecil. Sudah ada puluhan kapal jolloro yang terbalik," ungkap Yusuf.

"Kami selama ini sudah menuntut ke CPI, tapi tidak pernah direspon. Mungkin karena kami hanya warga kecil yang tak berpendidikan. Akan tetapi kami juga memiliki hak untuk bersuara. Kalo permintaan kami tidak ditangapi kali ini, kami akan datang lagi dalam jumlah massa yang lebih banyak," katanya.