Rabu, 14 Maret 2018 02:30 WITA

Melarikan Diri, Warga Venezuela Cari Kesembuhan di Kolombia

Editor: Fathul Khair Akmal
Melarikan Diri, Warga Venezuela Cari Kesembuhan di Kolombia
Foto: Reuters/Marco Bello

RAKYATKU.COM - Di sebuah rumah sakit dekat perbatasan Kolombia dan Venezuela, para imigran memenuhi ranjang-ranjang rumah sakit dengan luka-luka dari negeri yang mereka tinggalkan.

Seorang wanita muda berusia 18 tahun menggaruk-garuk perutnya. Dia meninggalkan Venezuela bersama putrinya yang baru lahir, saat bekas luka ketika melahirkan mengalami infeksi.

Seorang pria muda yang cedera akibat kecelakaan motor perlu obat antibiotik untuk mengobati infeksi lukanya.

Seorang pensiunan dengan kaki bengkak tiba di rumah sakit setelah naik bus selama 20 jam dari Caracs. Dia mencari pengobatan di rumah sakit itu karena dokter Venezuela mengatakan kakinya harus dipotong, tanpa obat bius atau antibiotik saat dioperasi.

"Jika Anda ingin tanda tangan, teken. Tapi kami tidak bertanggung jawab atas kehidupan ayah Anda," kata Teresa Tobar menirukan apa yang disampaikan dokter kepadanya, saat mereka menyerahkan dokumen operasi sang ayah, seperti dilansir Voice of America (VOA), Minggu (11/3/2018).

Seiring memburuknya krisis ekonomi di Venezuela, kian banyak warga yang melarikan diri ke luar negeri. Sebuah kelompok independen mengatakan sebanyak tiga hingga empat juta rakyat Venezeula meninggalkan Tanah Air mereka dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2017 saja, ratusan ribu dilaporkan pergi dari Venezuela.

Banyak dari mereka yang tiba di Kolombia dengan berjalan kaki. Mereka mencari ruang gawat daruat dengan kondisi medis yang tidak bisa diobati oleh rumah-rumah sakit di Venezuela.

Pejabat kesehatan Kolombia menyatakan 25 ribu warga Venezuela menyambangi unit gawat darurat tahun lalu, naik dari 1.500 saja pada 2015. Di rumah-rumah sakit di perbatasan seperti Cucuta, pasien terbaring berdampingan di tandu-tandu. 

Pejabat Kolombia memperkirakan jumlah pasien-pasien itu bakal meningkat dua kali lipat pada 2018. "Kolombia tidak bisa membayr biasa perawatan bagi setiap orang yang datang," kata Julio Saenz, penasihat urusan migran Kementerian Kesehatan Kolombia. Ini masalah yang sangat besr," kata dia seperti dilansir VOA.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro menolak menerima batuan kmanusiaan. Dia bahkan membantah negerinya mengalami krisis. Maduro khawatir jika dia memberi izin kepada bantuan internasional bisa membuka peluang intervensi asing ke negerinya.

Namun menteri informasi mengungkapkan masalah yang dialami rakyat Venezuela. Jumlah bayi-bayi dan ibu yang meninggal dunia saat melahirkan naik tajam. Penyakit seperti difteri, yang dianggap bukan lagi ancaman kesehatan, muncul kembali.

Berdasarkan undang-undang Kolombia, siapa saja yang mendatangi unit gawat darurat harus dilayani tanpa memandang kewarganegaraannya. Tapi banyak warga Venezuela yang tiba dengan penyakit seperti kanker, memerlukan biaya perawatan yang sangat mahal.

Selain kesehatan, kota-kota di perbatasan juga melihat kenaikan perdagangan seks, kelompok-kelompok pria, wanita dan anak-anak tidur di jalanan.

Michel Briceno, ibu muda yang melarikan diri ke Kolombia setelah melahirkan mengatakan dia mengambil keputusan itu setelah melihat beberapa wanita di rumah sakit Venezuela sakit dan meninggal dunia. 

Saat menyadari dirinya terkena inveksi, dia bersama suami, anak laki-laki dan bayi perempuannya naikbus selama 12 jam pergi ke Kolombia. Rasa sakit yang luar biasa dia tahan selama perjalanan. Jika dia masih bertahan di Venezuela, "Saya bisa saja mati," kata Briceno.