Selasa, 13 Maret 2018 17:52 WITA

Takut, Pengusaha Maros Terpaksa Jual Murah Beras kepada Tentara

Editor: Abu Asyraf
Takut, Pengusaha Maros Terpaksa Jual Murah Beras kepada Tentara
Anggota Kodim Maros mencegat truk pengangkut beras, Senin malam (12/3/2018).

RAKYATKU.COM - Komando Distrik Militer (Kodim) 1422 Maros merazia truk pengangkut beras di sejumlah titik di Kabupaten Maros beberapa hari terakhir. Beberapa pengusaha mengaku ketakutan.

Komandan Kodim 1422 Maros Letkol Kav Mardi Ambar Fajaryanto mengatakan, razia dilakukan untuk mencegah petani menjual gabah kepada tengkulak. Juga sebagai langkah untuk mendukung pemenuhan swasembada beras tingkat nasional.

Mardi Ambar Fajarianto mengatakan petani tidak perlu heran jika ada anggota Kodim yang bertindak menghalau penjualan gabah dari petani ke tengkulak di lapangan. Hal itu dilakukan semata-mata agar gabah petani bisa diserap maksimal oleh Bulog.

"Semalam ada beberapa titik. Anggota kami berhasil menghalau penjualan gabah petani oleh tengkulak yang akan di bawa ke Sidrap. Gabah itu kita arahkan ke mitra Bulog untuk dibeli. Mereka memang sengaja membeli gabah di malam hari," ungkapnya.

Pihaknya berupaya melakukan pemenuhan stok beras ini dilakukan dengan nama operasi Serapan Gabah Petani (Sergap). Melalui operasi ini, TNI turun langsung ke petani menghalau penjualan gabah dari petani ke para pedagang di luar mitra Bulog yang disinyalir akan ditimbun ataupun diekspor keluar dengan cara ilegal. 

"Saat ini ada sekitar 10 truk yang telah diamankan di Kodim,” bebernya. 

Sebelum melakukan razia, pihaknya terlebih dahulu melakukan sosialisasi ke lembaga yang menaungi petani, yakni Perpadi Maros. 

Pengusaha Ketakutan

Di lain pihak, pengusaha lokal resah dengan razia yang dilakukan TNI. Salah seorang pengusaha, Irwan mengaku sudah empat malam diadang anggota Kodim. Padahal, kata dia, dia memiliki dokumen perizinan yang lengkap.

"Saya perlihatkan surat resmi saya tetapi tetap ditahan, bahkan surat mobil juga diambil. Saya disuruh menghadap ke pak Dandim. Saya sudah menghadap, tetapi tidak ada juga kejelasan," ujarnya.

Pengusaha lainnya mengaku dipaksa oknum TNI untuk menjual gabah miliknya ke pihak TNI sebanyak satu ton dengan harga di bawah dari harga pembelian dari petani. 

"Kami beli dengan harga Rp4.700 tetapi di lokasi ada dari oknum TNI minta beli satu ton dengan harga Rp4.500. Saya akhirnya memberikan satu ton. Kita kasih karena kita takut meskipun kita sudah tahu itu rugi Rp200. Tetapi daripada gabah saya yang lain itu sekitar 10 ton harus ditahan dan bisa saja itu rusak," katanya.

Kepala Dinas Pertanian Maros M Nurdin menuturkan, untuk musim panen rendeng ini, Pemkab Maros menargetkan 11 ribu ton gabah atau setara dengan 8.800 ton beras dari petani. Target itu, optimistis bisa dipenuhi lantaran tahun lalu bahkan melebihi dari 100 persen pencapaian. Sementara untuk serapan Bulog, tahun ini ditargetkan 6-7 ribu ton. 

"Tahun lalu kita bisa lampaui. Saat ini memang semua pihak berkonsentrasi agar target serapan Bulog bisa dipenuhi. Kita heran produksi tinggi tetapi malah kita serapan minim," katanya.