Selasa, 13 Maret 2018 17:43 WITA

10 Truk Pengakut Beras di Maros Terjaring Razia TNI, Pengusaha Mengeluh

Penulis: Muh. Basri
Editor: Mulyadi Abdillah
10 Truk Pengakut Beras di Maros Terjaring Razia TNI, Pengusaha Mengeluh
Foto: Basri

RAKYATKU.COM, MAROS - Jajaran TNI Komando Distrik Militer (Kodim) 1422 Kabupaten Maros merazia truk pengangkut beras di sejumlah titik sejak beberapa hari terakhir. Langkah ini ditempuh untuk memaksimalkan jumlah gabah nasional. 

Komandan Kodim 1422 Kabupaten Maros Letkol Kav Mardi Ambar Fajaryanto mengatakan, hal itu sudah dua hari dilakukan anggota TNI. Tindakan itu, kata Mardi dilakukan untuk mencegah petani menjual gabah miliknya ke tengkulak. Juga sebagai langkah untuk mendukung pemenuhan swawenda beras tingkat nasional.

Mardi Ambar Fajarianto meminta petani tidak perlu heran jika ada anggota Kodim yang bertindak menghalau penjualan gabah dari petani ke tengkulak di lapangan. Seperti yang terjadi di sejumlah wilayah di Maros dan daerah lainnya. Hal itu, dilakukan semata-mata agar gabah petani bisa diserap maksimal oleh Bulog.

"Semalam ada beberapa titik, anggota kami berhasil menghalau penjualan gabah petani oleh tengkulak yang akan dibawa ke Sidrap. Gabah itu kita arahkan ke mitra Bulog untuk dibeli. Mereka memang sengaja membeli gabah di malam hari," ungkapnya.

Selama ini kata Dandim Maros, ada indikasi beras dari Maros dijual secara diam-diam ke luar daerah. Makanya, Kabupaten Maros sulit memenuhi target adanya pencadangan beras. 

"Untuk mencegah penjual ke pihak tengkulak, maka TNI menahan truk pengangkut beras tersebut. Saat ini ada sekitar 10 truk yang telah diamankan di Kodim,” bebernya. 

Pihak Kodim mengaku, sebelum melakukan razia dan penahanan truk milik petani, pihaknya terlebih dahulu telah melakukan sosialisasi ke lembaga yang menaungi petani, yakni Perpadi Maros. 

Sementara itu, pengusaha gabah lokal di Kabupaten Maros merasa resah dengan adanya razia penyelamatan gabah beras yang dilakukan TNI. Salah seorang pengusaha lokal Irwan mengatakan, sudah empat malam dia dihadang oleh TNI saat hendak membawa gabah yang dibelinya dari  masyarakat. 

Padahal kata dia, sebagai pengusaha jual beli beras dan gabah, dia dilengkapi dengan surat-surat perizinan yang lengkap. Namun mengapa pihak TNI tetap menahan kendaraan miliknya saat mengangkut gabah.

"Saya sudah empat malam diadang oleh anggota Kodim, tapi saya perlihatkan surat resmi saya. Tapi tetap ditahan bahkan surat mobil juga diambil dan saya disuruh menghadap ke pak Dandim. Saya sudah menghadap, tapi tidak ada juga kejelasan," ujarnya. 

Sementara itu, salah satu pengusaha lainnya mengaku, pihaknya dipaksa oleh oknum TNI untuk menjual gabah miliknya ke pihak TNI sebanyak 1 Ton dengan harga dibawah dari harga pembeliaannya di petani. 

"Kami sudah beli dengan harga Rp 4.700. Tapi di lokasi ada dari pihak TNI yang minta beli 1 ton dengan harga 4.500. Saya akhirnya memberikan 1 ton. Kita kasi karena kita takut meski pun kita sudah tahu itu rugi Rp 200 tapi daripada gabah saya yang lain itu sekitar 10 Ton harus ditahan dan bisa saja itu rusak," ungkapnya.