Rabu, 15 Juni 2016 10:45 WITA

Puasa Ujian Kejujuran Diri (6)

Menunjuk Imam yang Berjanggut

Editor: Almaliki
Menunjuk Imam yang Berjanggut

Oleh Armin Mustamin Toputiri

Sahabat saya yang satu ini, memang dikenal sebagai orang yang memiliki kepribadian sangat
supel. Ia mudah diterima dalam pergaulan. Pergaulannya pun meluas. Selain karena sejak ia
mahasiswa hingga usianya memasuki bilangan 50-an tahun kini, tak pernah lepas dari ragam
organisasi.

Ia juga turunan bangsawan. Sekampungnya menjadikan dirinya sebagai sesepuh. Sebab itu, kemarin sore saat menyelenggarakan acara buka puasa bersama di kediamannya di Makassar, banyak undangan yang hadir. Tak hanya dihadiri sesama temannya para aktivis organisasi di masa dulu, tapi juga di masa sekarang. Bahkan turut bergabung, banyak tokoh masyarakat dan pemuda sekampungnya. Semua bergabung dalam satu perhelatan akbar.

Seusai menikmati hidangan ringan berbuka puasa, kini waktunya menunaikan salat Magrib, tapi karena banyaknya undangan yang hadir, sementara ruang tamu dan ruang tengah yang disiapkan sebagai tempat salat berjemaah Magrib, tak cukup menampung semua jemaah secara sekali bersamaan, maka salat dilaksanakan secara bergiliran.

Giliran pertama selesai. Giliran kedua, umumnya diikuti jemaah para perokok yang memilih
menikmati buka puasanya dengan menghisap rokok. Jujur saja, saya termasuk giliran yang
ini. 

Loading...

Jemaah telah mengisi seluruh “saff” dan bersiap menunaikan salat Magrib berjemaah, tapi siapa bakal tampil menjadi imam untuk memimpin salat di giliran kedua? Semua saling tunjuk, merasa diri tak sanggup. Tapi akhirnya jemaah seolah bersepakat, jika seorang yang berjanggut panjang diarahkan menjadi imam. Meski menampik, tapi akhirnya bersedia juga.

“Ini juga menjadi bukti bahwa kita seringkali tak jujur memandang keimanan seseorang, penampilan luar sering menjebak dalam menakarnya,” gurau seorang jama’ah.

Faisal-Makassar, 07 Ramadhan 1436 H/01 Juli 2015 M.

Tags
Loading...
Loading...