Selasa, 13 Maret 2018 16:12 WITA

Cari Makan di Hutan, Tiga Warga Soppeng Dituntut Setahun Penjara dan Denda Rp500 Juta

Editor: Abu Asyraf
Cari Makan di Hutan, Tiga Warga Soppeng Dituntut Setahun Penjara dan Denda Rp500 Juta
Demo warga di Soppeng yang meminta pembebasan petani.

RAKYATKU.COM,SOPPENG - Tiga petani di Soppeng dibayangi hukuman penjara gara-gara mencari kehidupan di hutan. Mereka dituntut satu tahun pidana penjara dan denda Rp500 juta subsider lima bulan kurungan.

Tuntutan tersebut dibacakan jaksa penuntut umum (JPU), Yeni Cahyo Risdiantoro pada persidangan di Pengadilan Negeri Soppeng, Selasa (13/3/2018). Ketiganya dituduh melanggar pasal 12 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (P3H).

Sebelumnya, ketiga petani asal Desa Umpungeng, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng itu ditangkap karena mengelola lahan dalam kawasan hutan lindung Laposo Niniconang, Soppeng.

Ketiga petani tersebut, yakni Sahidin (47), Suka (39), dan Jamadi (45). Mereka ditangkap pada 22 Oktober 2017.

Atas tuntutan JPU, ketiga terdakwa diberi kesempatan mengajukan pembelaan secara tertulis pada sidang selanjutnya, Senin (19/3/2018).

Kuasa hukum terdakwa, Ridwan yakin kliennya bakal diputus bebas. Alasannya, pasal 12 UU P3H tidak tepat diterapkan kepada kliennya. Dia beralasan, pada persidangan lalu terungkap fakta bahwa mereka menggarap lahan hanya untuk kebutuhan sehari-hari, bukan untuk kepentingan komersial.

"UU P3H harusnya hanya diterapkan bagi korporasi atau perusahaan yang bergerak dengan skala besar, bukan bagi petani kecil yang hanya bekerja bagi penghidupan mereka sehari-hari," tambahnya.

Forbes Petani Berunjuk Rasa di Depan PN

Sidang tuntutan itu diwarnai unjuk rasa oleh massa yang tergabung dalam Forum Bersama (Forbes) Petani. Mereka meminta majelis hakim agar memberikan vonis bebas kepada ketiga petani Soppeng tersebut.

"Perlu diketahui fakta yang terungkap pada persidangan lalu. Ketiganya ada petani kecil yang berladang secara tradisional dilahan seluas 0,5 hektare, semata-mata untuk keperluan sandang, pangan, dan papan, bukan untuk keperluan komersial," ujar Rico, koordinator aksi.

Dia menambahkan, lahan tersebut satu-satunya sumber penghidupan mereka yang merupakan lahan yang telah dikelola selama turun temurun bersama keluarganya didalam kawasan hutan Laposo Niniconang.
 

Tags