Selasa, 13 Maret 2018 13:31 WITA

Puluhan Tahun Hidup di Kandang Sapi, Nenek di Pangkep Meninggal

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Puluhan Tahun Hidup di Kandang Sapi, Nenek di Pangkep Meninggal
Gubuk milik nenek Bayana (81).

RAKYATKU.COM, PANGKEP - Bayana (81), warga Kelurahan Pabundukang, Kecamatan Pangkajene, Pangkep, ditemukan dalam kondisi lemah tak berdaya, oleh petugas medis yang menjenguknya pada Senin (12/3/2018) kemarin. 

Melihat kondisi tersebut, Bayana lalu dibawa ke RSUD Pangkep untuk mendapatkan perawatan. Namun ajal berkata lain, Bayana meninggal beberapa jam kemudian karena kondisinya yang sangat drop dan tanpa satupun keluarganya yang mendampingi.

Humas RSUD Pangkep, Mansyur mengatakan, saat petugas medis tiba di gubuknya, kondisi nenek Bayana sudah lemas tak berdaya, diduga karana tidak mengkonsumsi makanan dan minuman. Sehingga saat petugas kembawanya ke RSUD Pangkep, petugas langsung memberikan terapi cairan.

"Saat tiba di RSUD, penanganan pertama diberikan terapi melalui cairan, mengingat kondisinya yang sangat lemas dan tidak bisa bangun. Sekitar pukul 20.00 wita tadi malam, kondisinya sudah mulai drop, lalu meninggal sekitar pukul 22.30," ujar Mansyur kepada Rakyatku.com, Selasa (13/3/2018).

Sementara itu, Plt. Lurah Pabundukang, Andi Baso Erwin menuturkan, warganya tersebut selama ini hidup dari belas kasihan tetangga-tetangganya, meninggat kondisinya yang sudah renta disamping mengalami gangguan kejiwaan. 

Apalagi, lanjut Baso Erwin, gubuknya yang berada di kandang sapi, kemungkinan adalah salah satu penyebab kondisi fisiknya yang kian memprihatinkan.

Hanya saja kata Baso Erwin, pihaknya tak dapat berbuat banyak, mengingat selama ini almarhum selalu menolak ajakan keluarganya untuk menampungnya. Ia lebih memilih hidup sendiri di kandang sapi, milik warga sekitar. 

"Ada keluarganya cuma kami tidak tau persis, kalau suaminya sudah lama meninggal, cuma yang di sekitar gubuknya situ keluarga jauhnya. Selalu ji warga sekitar memberikan bantuan, makanan dan minuman karena prihatin dengan kondisinya. Hanya saja, saat diminta pindah dari situ untuk ditampung keluarganya dia yang bersikeras tidak mau," ungkap Baso Erwin.

Baso Erwin menambahkan, pihaknya pun sempat mengusulkan bantuan untuk meringankan kondisi nenek Bayana, hanya saja sampai meninggal, bantuan material untuk meringankan beban almarhum belum juga turun. Kondisi fisik Bayana juga diperparah dengan penyakit TBC non aktif yang dialaminya.

"Kasihan sekali, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa, dan tidak ada yang bisa disalahkan. Apalagi almarhum juga dikenal kurang waras, bahkan saat warga sekitar mau perbaiki rumahnya justru dirusak kembali oleh almarhum," terang Baso Erwin.