Rabu, 07 Maret 2018 15:03 WITA

Opini

Ibarat Sepak Bola, SYL-lah Pemain Bintang

Editor: Adil Patawai Anar
Ibarat Sepak Bola, SYL-lah Pemain Bintang
Syahrul Yasin Limpo.

 Sebagai mantan pemain dan pelatih bola, izinkanlah saya untuk memberikan perbandingan atas karier DR. Syahrul Yasin Limpo,S.H,MS.i. di ranah pemerintahan dengan di dunia persepakbolaan.

Umum diketahui seorang pejabat akan memacu prestasi kerjanya pada momen-momen tertentu. Misalnya pada momen 100 hari kepemimpinannya. Tetapi Pak Syahrul Yasin Limpo, tidaklah demikian.

Seperti pesepakbola, dia agresif menyerang sejak peluit pertama dibunyikan sampai permainan usai. Bahkan saat enjury time, dia pun terlihat semakin agressif. 
Pengalaman saya sebagai pelatih bola, ketika tim sudah mencetak kemenangan dan waktu permainan menjelang habis, maka saya akan memilih strategi bertahan. Saya akan meminta pemain agar jangan larut menyerang apalagi abai dengan pertahanan. Kalau perlu cukup “memainkan’ bola di daerah aman, menunggu waktu habis.

Tetapi sekali lagi, Pak Syahrul tidaklah demikian. Di lapangan, Pak Syahrul juga bukan hanya kreator, kapten, inspirator, dan goal getter, tetapi juga pengatur ritme serangan. Beliaulah yang menentukan kapan permainan berlangsung  keras, kapan cepat, dan kapan mesti berseni.

Sebagai pengatur irama, beliau tahu persis bahwa permainan yang berlangsung keras terus menerus akan menjurus kasar, yang selamanya berlangsung cepat akan terasa monoton, dan yang terlalu berseni akan menjurus kepada gerak tari-tarian. Jadi ketiga unsur ini harus diharmonisasi dalam perpaduan yang menarik.

Ibaratnya, Pak Syahrul-lah yang mengaturnya menjadi sebuah simponi yang apik dan mengundang decak kagum bahkan fanatisme dari penonton. 

Tak kalah penting, karena sebagai pemain, karier Pak Syahrul juga dimulai dari klub di tingkat desa, lalu merambah ke tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, nasional, dan bahan pemain internasional. Dari klub amatiran sampai profesional.

Lebih menarik lagi karena dalam kiprahnya selama ini, beliau tidak pernah mendapatkan kartu kuning apalagi kartu merah. Beliau bahkan menjadi pemain bintang yang diidolakan banyak pihak, terbukti dengan ratusan penghargaan yang berhasil diraihnya. 

Andaikata aturan tidak membatasi masa kepemimpinan seorang kepala daerah hanya sampai dua periode, saya yakin Pak Syahrul kembali akan didaulat oleh masyarakat untuk melanjutkan kepemimpinannya.

Dan untuk hal ini, beliau tak perlu capek-capek berkampanye karena masyarakat sudah sangat paham dengan kinerjanya. Sebagian besar rakyat akan kembali memilihnya karena ibarat di dunia sepakbola, Pak Syahrul adalah PEMAIN BINTANG. Begitulah kira-kira.

Makassar, Awal Februari 2018, SYAMSUDDIN UMAR.