Sabtu, 24 Februari 2018 08:31 WITA

Tak Bisa Bohong, Ada Foto Satelit Perlihatkan Desa Rohingya Dibuldoser

Editor: Aswad Syam
Tak Bisa Bohong, Ada Foto Satelit Perlihatkan Desa Rohingya Dibuldoser
Sebuah foto satelit memperlihatkan buldoser meratakan Desa Rohingya dengan tanah.

RAKYATKU.COM, MYANMAR - Kelompok pegiat hak asasi manusia menyoroti Myanmar, pasca investigasi wartawan BBC yang mengungkap fakta pembunuhan massal terhadap etnis Rohingya.

Militer Myanmar sempat membantah, meski kemudian mengakui dengan alasan mereka yang ditembak mati adalah teroris Arakan.

Baru-baru ini, kelompok pegiat hak asasi manusia mendapati kuburan massal di Rakhine dibuldoser. Myanmar sempat membantah, namun sejumlah foto-foto satelit memperlihatkan adanya aktivitas buldoser yang meratakan daerah tersebut, termasuk pepohonan, sudah menjadi rata dengan tanah.

Human Rights Watch -seperti dilaporkan kantor berita Reuters- menyatakan, paling tidak 55 desa diratakan untuk menghilangkan bukti pelanggaran yang dilakukan pasukan saat mereka beroperasi di sejumlah desa.

Lembaga pegiat hak asasi itu juga menyatakan tindakan tersebut akan semakin menyulitkan Muslim Rohingya untuk kembali ke bekas rumah mereka.

Ratusan ribu warga Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh menyusul aksi kekerasan setelah serangan atas 30 pos polisi dan markas militer oleh kelompok militan Rohingya pada 25 Agustus 2017.

Sebelumnya, para pejabat Myanmar mengatakan tanah tersebut perlu dibersihkan agar rumah-rumah baru dapat dibangun.

Pada bulan September, menteri yang bertanggung jawab atas usaha rehabilitasi di Rakhine, Win Myat Aye, mengatakan, tanah yang rusak karena kebakaran akan menjadi tanah yang dikelola pemerintah.

Sampai sejauh ini, tidak satupun dari pengungsi Rohingya kembali ke Myanmar.

Operasi militer pada Agustus menyebabkan 688.000 orang melintasi perbatasan ke Bangladesh dan sebagian besar dari mereka menceritakan terjadinya pembunuhan, perkosaan, dan pembakaran yang dilakukan tentara dan polisi Myanmar.

Pada 21 Februari, video yang diperoleh tim Arakan Project -yang menggunakan jaringan di lapangan untuk mendokumentasikan perlakuan buruk terhadap warga Muslim Rohingya di Rakhine- menunjukkan lokasi kuburan massal sebelum dihancurkan.

Video yang ditunjukkan kepada koran Inggris, The Guardian, memperlihatkan kantong-kantong jenazah dari terpal yang setengah terkubur di tanah, salah satunya dengan jelas menunjukkan kaki manusia.

Chris Lewa, Direktur Arakan Project mengatakan, buldoser dikerahkan untuk menyembunyikan bukti kuburan massal setelah kuburan tersebut dilaporkan media.

Diperkirakan, ribuan warga Rohingya tewas dalam operasi militer, sementara hampir 700.000 warga Rohingya menyelamatkan diri ke negara tetangga, Bangladesh.

Utusan khusus PBB untuk masalah HAM Myanmar, Yanghee Lee, mengatakan krisis ini memperlihatkan adanya genosida.

Sebelumnya, pejabat PBB lain menggambarkan yang terjadi terhadap warga Rohingya adalah jelas-jelas pembersihan etnik.