Selasa, 20 Februari 2018 23:16 WITA

Telur Sengaja Dimasukkan ke Dalam Tubuh Bocah di Gowa?

Editor: Fathul Khair Akmal
Telur Sengaja Dimasukkan ke Dalam Tubuh Bocah di Gowa?
Kapolres Gowa, AKBP Shinto Silitonga saat berkunjung ke RS Syekh Yusuf, Kabupaten Gowa.

RAKYATKU.COM, GOWA - Pihak kepolisian Polres Gowa ingin mengungkap fakta dibalik fenomena bocah bertelur di Kabupaten Gowa yang dialami Akmal (14), Warga Desa Mangempang, Kecamatan Bungaya, Kabupaten Gowa. 

Saat berkunjung ke RS Syekh Yusuf Kabupaten Gowa, tempat Akmal dirawat, Kapolres Gowa, AKBP Shinto Silitonga menjelaskan kalau peristiwa tersebut berulang yang kembali terjadi sejak tiga tahun lalu, Tahun 2015.

Menurutnya, anak tersebut juga pernah dirawat dengan fenemona yang sama dan diobservasi cukup lama sebanyak 6 hari. Tetapi tidak melakukan proses penuluran itu kembali

"Jadi saya ingin melihat, bagaimana sebenarnya fakta-fakta terutama yang bisa dinalar oleh logika keilmuan tertentu, supaya kita bisa memahami apa yang harus kita lakukan terhadap sang anak maupun orang yang punya niat lain terhadap sang anak," ungkap Shinto Silitonga. 

Ditanya soal keberadaan telur tersebut, Kapolres Gowa mengatakan, tentu saja itu menjadi fakta yang harus digali oleh penyelidik, terutama Unit PPA tentang bagaimana cara masuknya benda itu ke dalam tubuh manusia.

"Jadi yang kita kejar adalah fakta, bukan sesuata yang sifatnya magic atau sesuatu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan berdasarkan disiplin ilmu tertentu. Nah ini yang kita harus singkronkan, sehingga tugasnya teman PPA untuk mencari bagaimana fakta masuknya benda itu ke dalam tubuh manusia," papar Shinto Silitonga. 

Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) juga harus menggali, tambah Shinto, sejauh mana pandangan kedokteran atas pasien yang kebutulan statusnya anak dalam penanganan sang dokter. Dan tidak bisa memisahkan bagaimana keterangam medis dan bagaimana benda itu bisa masuk dalam tubuh manusia.

"Tapi yang dikejar adalah fakta. Karena penyidikan dan penyelidikan disusun secara fakta, fakta berarti berasal dari disiplin keilmuan tertentu. Dan inilah yang kita harus bangun untuk bisa melihat fenomena ini benar atau tanpa fakta," lanjutnya.

"Dari sudut pandang tim penyelidikan bukan berasal dari sistem tubuh secara internal, saya katakan itu dulu. Saya mencari fakta bahwa ada tindakan lainnya untuk memasukkan benda itu, saya mengatakan benda itu tidak diproduksi dari dalam tubuh, sampai nanti kita lihat fakta," tutup Shinto Silitonga.