Sabtu, 11 Juni 2016 10:35 WITA

Puasa, Ujian Kejujuran Diri (5)

Pertengkaran Hebat di SPBU

Editor: Almaliki
Pertengkaran Hebat di SPBU

Oleh Armin Mustamin Toputiri

Sore kemarin, saat tengah bergegas menuju rumah jabatan Gubernur Sulawesi Selatan guna menghadiri acara buka puasa bersama para pejabat tinggi BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) Pusat, saya tersadar jika mobil saya ternyata mulai kekurangan bahan bakar.

Saya meminta pada sopir saya, agar segera mampir ke salah satu SPBU terdekat. Di ujung jalan akan dilalui. Saat memasuki area SPBU, mobil saya tercegat antrean sekian mobil yang lebih duluan masuk untuk mengisi bahan bakar. Saya memaklumi dengan keadaan yang sudah demikian adanya.

Tapi setelah sekian waktu bersabar menunggu, deretan mobil yang di depan tak sedikitpun
bergerak. Perasaan saya mulai gelisah. Tak lain karena waktu berbuka puasa makin mepet. Pada saatnya, perasaan dongkol mulai menyesak di dalam dada saya. Namun karena sedang menunaikan puasa, saya mencoba mensabar-sabarkan diri. 

Namun tiba juga saatnya, batas kesabaran saya berakhir. Saya turun dari mobil, berjalan ke depan untuk mencari musabab antrian mobil sejak tadi tak bergerak. Ternyata tepat depan mesin pompa terjadi adu mulut antara seorang sopir yang sedang mengisi bahan bakar, dengan pekerja SPBU.

Sang sopir merasa dicurangi. Sisa uang Rp5 ribu diakui belum dikembalikan oleh si pekerja SPBU. Sementara si pekerja SPBU, mengaku dan bersumpah telah mengembalikannya pada sang sopir. “Kamu ini pembohong besar. Kamu jangan coba menipu saya”, bentak si sopir.

Loading...

Tapi si pekerja SPBU, kukuh pada pendiriannya. “Saya ini lagi puasa Pak, mana mungkin saya berbohong, apalagi menipu Bapak”. Sang sopir membelalakkan dompetnya, “Kamu ini coba buka mata lebar-lebar. Lihat ini, mana ada uang lembaran Rp5 ribu di dalam,“ perdebatan yang sepertinya tak berujung. Akibatnya, antrean mobil di belakang pun makin menumpuk.

Saya coba melerai. “Pak kita ini lagi puasa. Sudahlah, sisa uang Rp5 ribu itu, biar saya yang mengganti,” tawar saya mencari jalan keluar. Si pekerja SPBU lega. Tapi sang sopir menolak.

“Ini bukan soal uang Rp5 ribu, tapi saya menuntut kejujuran orang ini!”, ujarnya.

Ooohw! Kalau demikian adanya, jadwal berbuka puasa saya di rumah jabatan Gubernur, dibatalkan.

Phinisi Faisal-Makassar, 06 Ramadhan 1437 H/2016 M

Tags
Loading...
Loading...