Jumat, 10 Juni 2016 17:03 WITA

Ato; Tetap Puasa dan Memulung Demi Sekolah Anak

Penulis: Ais Nurbiyah Al- Jum'ah
Editor: Almaliki
Ato; Tetap Puasa dan Memulung Demi Sekolah Anak
Ato dan Udin

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Hari ini, Jumat (10/6/2016), hari kelima puasa dan matahari semakin terik saja di siang menjelang sore di sepanjang Jl Hertasning, Makassar. Pasar tumpah sudah ramai. Biasanya, jelang sorelah waktunya mereka menjaja dan memameri makanan, minuman, pakaian, sampai dengan promo kartu internet.

Sepanjang puasa banyak bazar Ramadan, juga setumpuk agenda yang telah disusun beragam komunitas serta pusat perbelanjaan yang menghadirkan potongan harga gila-gilaan. Dari semua itu, mungkin saja meluber manusia yang keroncongan juga berdahaga ria.

Dari tumpukan aktivitas hiruk-pikuk kota saat kerlap Ramadan, menjelang pukul 15.00 Wita, lewat mataku yang minus aku melihat sayup-sayup seorang anak sedang tertidur pulas di atas gerobak pulungan Ayahnya. Bajunya kotor dan dekil, kulitnya hitam legam dengan debu berlengketan.

Kuputuskan melihatnya lebih dekat. Wajahnya pasi, giginya kuning, dan bibirnya lantas menyenyumiku tatkala kusorongkan sebungkus makanan untuknya berbuka puasa.

Namanya Ato, laki-laki yang berumur 30-an tahun itu memang memiliki seorang anak bernama Udin berusia sekira 7 tahun. Ato tidak begitu tahu umurnya, ia hanya mengarangnya saja sepertinya. Oh ya, perlu kalian tahu, ia bekerja sebagai pemulung sejak belasan tahun. Isterinya telah meninggal.

"Iye, Udin kelas 2 Sd, sekolah dan tinggal di kampung dia bersama Neneknya, kalau libur kesini," ujar Ato kepadaku, Jum'at (10/6/2016).

Loading...

Ato; Tetap Puasa dan Memulung Demi Sekolah Anak

Di bulan ramadan ini Ato memutuskan untuk tetap memulung. Olehnya, ia tidak bisa makan demi melanjutkan hidupnya jika tidak memulung. Sungguh kasihan, menunaikan pekerjaan yang sudah pasti menguras tenaga selama bulan suci ramadan.

"Tetap puasa, tetap memulung juga," singkat Ato, dengan peluh yang mengucur. Kulihat wajahnya basah, pancaran lelah di wajahnya nampak jelas. Tapi ia tetap ramah menjawab segala pertanyaanku.

Lalu kepada anaknya, Ato kembali memaparkan kisahnya. Meski bekerja sebagai pemulung dengan penghasilan tak seberapa, Udin tetap sekolah, sekarang Ia telah kelas 2 Sd. "Supaya tidak memulung lagi seperti saya ini," harapnya.

Saat ini, meski dengan penghasilan 50-70 ribu per-hari. Tentu tidak cukup menghidupi keluarganya. Tapi itulah Ato, yang bisa mendapatkan uang dengan mudah; mendorong gerobak dan menulusuri sepanjang jalan untuk mengais-ngais bekas minuman orang. Walau mampu seperti itu Ato tetap pantang untuk mengemis.

Tags
Loading...
Loading...