Kamis, 25 Januari 2018 17:21 WITA

OPINI

Belajar Memancing di Makassar

Editor: Almaliki
Belajar Memancing di Makassar

Alangkah indahnya kalau setiap masyarakat Makassar tahu, kalau dalam karya sastra Amerika Latin, pernah dikisahkan seorang nelayan penyabar bernama Santiago, karakter utama dalam buku Lelaki Tua dan Laut karangan Ernest Hemingway.

Ia hobi memancing. Dalam novelnya berlatar laut, pantai, dan satu rumah kecil tempat Santiago tinggal. Saya berpikir saya harus punya kisah di sana. Atau sekadar melihat burung-burung pelikan memakan ikan. Sejauh itu, saya memikirkan seorang anak yang besar dan tumbuh di sana, bermain dengan kapal, disapu ombak di bibir pantai, dan main pasir.

Tetapi bukan mengawang itu yang saya pikir. Ini cuma soal kesabaran kita di Makassar. Tak bisa dimungkiri, masyarakat kian hari kian tak sabar. Motor dan mobil makin banyak, sementara lampu merah di kota ini, kian tak terurus. Barangkali ini yang paling cepat hitungan perpindahan lampu lalinnya. Semenit, 30 detik, atau tak nyala sama sekali!

Kejar-kejaran demi mengejar absensi kantor, tak pelak membuat kita sering menggerundel sepagi apa di jalanan. Begitu pun jika pulang kantor. Mengapa kita tak bisa bangun lebih pagi dan mendahului mereka yang mau cepat tiba ke kantor, tetapi enggan bangun lebih pagi?

Semuanya persoalan usaha lagi, lagi, dan lagi.

*

Masing-masing dari kita memang butuh laut dan alam raya yang asri. Dari sana, kita semua akan belajar bagaimana cara bersabar. Contoh saja, saat memancing di pinggir laut, kita akan belajar bersabar menunggu pancingan kita dipatok ikan. Beruntung sekali jika umpan dimangsa, dan dibawa lari.

Atau lebih mudahnya lagi, menanam kecambah tauge yang kerap dipraktikkan anak sekolah. Semua butuh proses, dan kacang hijau tidak pernah langsung pecah menjadi sayur yang kerap menimbun bumbu kacang dalam gado-gado bukan?

Semua butuh kesabaran, tak seperti di jalanan dewasa ini. Ada yang melanggar lampu merah karena tidak sabar. Suuzon saja, barangkali mereka tak punya jam tangan,  ia mengira dirinya terus-menerus terlambat dan diikat waktu. Sayangnya, mereka harus berpikir, kalau mereka bisa ditabrak dan jadi mayat penuh darah di jalanan.

Kalian barangkali bisa bilang: apakah kau pernah memancing, kawan? Lupakan kata-kata kurang piknik-piknik itu. Tempat piknik semakin hari menjadi masa lalu yang tak bisa kaugapai.

*

Manolin dilarang oleh orangtuanya untuk berlayar dengan si lelaki tua alias Santiago, dan diperintahkan untuk pergi dengan nelayan yang lebih berhasil. Manolin adalah murid dari Santiago.

Tetapi Manolin enggan mendengarnya. Manolin mengunjungi gubuk Santiago setiap malam, mengangkat peralatan nelayannya, memberinya makan, dan membicarakan olahraga bisbol Amerika dengan guru mancingnya itu.

Santiago berkata pada Manolin, bahwa pada hari ke-85, sebab ia telah melewati 84 hari tanpa mendapat seekor ikan pun, ia akan berlayar sangat jauh ke tengah teluk untuk menangkap ikan, dan ia yakin bahwa gelombang nasibnya yang kurang beruntung akan segera berakhir.

Pada hari ke-85 hingga ke-87, kailnya dipatok ikan. Bahkan sangat besar. Meski akhirnya, novel itu diakhiri dengan kesedihan-kesedihan yang sangat, tetapi belajar bersabar dari Santiago tampaknya perlu kita lakukan. Jangan lupa menjadi Manolin, untuk banyak belajar dan berharap segala usaha jika dikerjakan dengan sungguh akan membuahkan hasil yang baik.

Novel ini bukan berbicara soal hasil. Tetapi bagi saya, ini soal kesedihan-kesedihan, mengapa kota ini melupakan laut dan menimbunnya, serta membabat habis pohon yang masih akan tumbuh di trotoar? Kita takkan bisa menjadi Manolin, kita takkan bisa menjadi Santiago. Bekerja kantoran lebih hebat, dan kita selalu lupa waktu dan jam tangan, begitupun kesabaran.

Ditulis oleh: Muhammad Almaliki