Rabu, 24 Januari 2018 12:40 WITA

Usai Bunuh Sopir Taksi Online, Pelajar Ini Tetap Masuk Sekolah

Editor: Mays
Usai Bunuh Sopir Taksi Online, Pelajar Ini Tetap Masuk Sekolah
Polres Semarang saat gelar kasus, Rabu, (24/1/2018). (Sumber: merdeka.com)

RAKYATKU.COM, SEMARANG - Usai membunuh Deni Setiawan, seorang sopir taksi online, DR (16) dan IB (16), siswa salah satu SMK di Kota Semarang, masih tetap masuk dan mengikuti mata pelajaran. 

Sabtu (20/1), korban yang mengendarai Grand Livina H 8849 D, mendapat pesan dari calon penumpang di aplikasi ponselnya. Pesan itu dari IB. Lokasinya di Lemahgempal. Sampai di lokasi IB bersama DR naik ke mobil yang dikemudikan korban. Tujuannya, Sambiroto.  

Sesampainya di Sambiroto, IB dan DR membayar Rp22.000. Namun karena uang yang dimiliki kurang, DI beralasan mengambil uang terlebih dulu. Sesampainya di Perumahan Bukit Cendana, IB yang duduk di kursi belakang langsung menggorok leher korban. Deni meninggal di dalam mobil tersebut. Mereka pun membuang jasad korban di jalan Perumahan Bukit Cendana.

Setelahnya, handphone iPhone dan Samsung milik Deni disimpan DI di rumahnya. Sementara pisau belati, disembunyikan IB.

Mobil korban baru ditemukan Senin (22/1) di Jalan HOS Cokroaminoto Semarang.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abiyoso Seno Aji seperti dilansir merdeka.com mengatakan, pembunuhan tersebut sudah direncanakan sebelumnya oleh kedua tersangka. 

Abiyoso mengungkapkan, kedua pelaku beralasan tujuan utamanya merampok sopir taksi online tersebut untuk membayar SPP. "Apakah ini benar atau tidak, tentu kita juga akan minta keterangan dari orangtua dan pihak sekolahan," imbuhnya.

loading...

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Provinsi Jawa Tengah, Gatot B Hastowo mengaku turut prihatin atas kejadian ini. Menurutnya, sebagai pengelola SMA/SMK, harus ada pembenahan dalam upaya mencetak pelajar berkarakter. 

"Kami masih butuh berkoordinasi dengan sekolah. Selebihnya ya kami turut menghormati proses hukum yang berjalan," jelasnya, Rabu (24/1).

Terpisah, Kepala Sekolah SMK Negeri 5 Semarang, Suharto menyangsikan pernyataan IB dan DI yang membunuh untuk membayar SPP. Menurutnya, keduanya telah membayarkan Rp510.000. "Pembayaran itu per bulan Rp 170.000, data kami kedua anak ini sudah bayar tiga bulan," terangnya.

Suharto mengaku tidak menyangka kedua anak didiknya bisa berlaku sadis hingga melakukan pembunuhan. Sebab, berdasarkan data kedua anak tersebut di sekolah bersih dari catatan buruk. 

Bahkan, lanjut Suharto, pada hari Senin (22/1) keduanya tercatat masuk sekolah meskipun hadir terlambat. Mereka mengikuti kegiatan sekolah hingga akhir. "Senin pagi keduanya masuk, tapi terlambat dan mendapat sanksi disiplin dari guru BP. Mereka ikut pembelajaran sampai selesai pukul 15.15 WIB," ungkapnya.

Loading...
Loading...