Kamis, 09 Juni 2016 09:26 WITA

Puasa, Ujian Kejujuran Diri (3)

Meminta Sedekah Muballigh

Editor: Almaliki
Meminta Sedekah Muballigh

Oleh Armin Mustamin Toputiri

Seperti lazimnya, usai menunaikan shalat Isya berjemaah, maka sebelum lanjut menunaikan
salat Tarawih yang tentu juga ditunaikan berjamaah, di sela-sela waktu itulah, ada seorang
muballigh naik ke mimbar. Dan malam tadi, masjid tempat saya menunaikan salat Tarawih,
seorang muballigh juga tampil ke mimbar untuk menyampaikan ceramah agama.

Kebetulan saja, sang muballigh yang berceramah di atas mimbar itu, tak lain adalah seorang
karib saya, sesama aktifis oganisasi keagamaan pada masanya. Saya tahu pasti sejak dahulu
jika dia seorang ustadz yang telah “khatam” pengetahuannya tentang ajaran Islam. 

Buktinyacsaat malam tadi, ia coba mengurai faedah zakat, mayoritas jemaah mengangguk dibuatnya. Beralaskan pada langgam, retorika dan semiotika yang mantap digunakannya, sebagaimana kelebihannya sejak dulu, sehingga pesan-pesan ajaran agama yang ia ceramahkan, sangatlah mudah dicerna oleh para jemaah yang hadir.

Dari itu pula, sehabis salat Tarawih, cukup banyak jemaah yang membincanginya. Bahkan menanyakan ulang isinya pada sang muballigh. Pokok isi ceramah disampaikannya malam tadi, soal rukun islam ke empat, yaitu kewajiban umat Islam untuk menunaikan zakat. 

Ia mengurai secara mendalam tentang esensi zakat, faedah serta risiko bakal dihadapi jika tak menunaikan zakat. “Sungguh keterlaluan mereka yang mendapat rezeki tapi tak menyedekahkan pada meraka yang memerlukan,” tandasnya.

Loading...

Usai salat Tarawih, Sang Muballigh dihampiri sekian jemaah, termasuk saya. Namun di saat
bersamaan, seorang ibu tua ikut pula menghampiri. Kalau jemaah lain menghampiri sekadar
mau menyampaikan apresiasi, tapi ibu tua itu justru mau meminta sedekah pada muballigh.

“Ini dia masalahnya, giliran senjata sendiri memakan tuannya”, kelakar sang muballigh itu.

Maksudnya, baru saja ia menyampaikan ceramah kewajiban zakat, kini gilirannya dimintai
sedekah. Sontak Sang Muballigh itu merobek ujung amplop baru saja diterima dari panitia
masjid. Saya lalu mencegatnya. Biar saya yang memberi sedekah ibu tua itu, agar isi amplop Muballigh tak berkurang. “Mestinya Ente tadi yang ceramah, berbukti,” canda Muballigh itu.

Phinisi Faisal-Makassar, 04 Ramadhan 1437 H/2016 M

Tags
Loading...
Loading...