Senin, 22 Januari 2018 16:31 WITA

Kronologi 7 Driver Grab Terciduk karena Main "Tuyul" di Makassar

Penulis: Syukur
Editor: Mulyadi Abdillah
Kronologi 7 Driver Grab Terciduk karena Main
Polda Sulsel saat merilis driver Grab yang bermain "tuyul" di Kota Makassar, pada Senin (22/1/2018).

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Polda Sulsel sukses mengungkap kasus driver Grab yang bermain "tuyul" di Kota Makassar. Ini kasus pertama di Indonesia yang terungkap oleh aparat kepolisian. 

7 driver yang beroperasi dengan penumpang fiktif itu diciduk di rumah kos-kosan, Jalan Toddopuli, Kecamatan Panakkukang, Makassar, pada Sabtu (20/1/2018).

Mereka yang diamankan adalah IGA (31), AQM (25), RJ (25), HR (21), KFP (24), TR (24) dan TB (25). Mereka semua terdaftar sebagai pengemudi Grab namun saat beroperasi mereka menggunakan penumpang fiktif agar mencapai target. 

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani membeberkan kronologi penangkapan para pelaku tersebut. 
"Awalnya ada informasi terkait dugaan adanya aktivitas yang mencurigakan," ungkap Dicky, pada Senin (22/1/2018).

Setelah mendapatkan informasi tersebut, anggota langsung mendatangi tempat yang dimaksud. Setiba di TKP, langsung dilakukan pemeriksaan dan penggeledahan 7 orang pemuda yang sedang berkumpul tersebut.

"Hasil dari pemeriksaan tersebut para pelaku tertangkap tangan sedang melakukan aktifitas illegal access aplikasi grab untuk meraih intensif/bonus tanpa melakukan pekerjaan yang sebenarnya," urai Dicky.

loading...

Pasca tertangkap tangan, petugas selanjutnya mengamankan para pelaku dan barang bukti. Pelaku digelandang ke Mapolda Sulsel untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan secara intensif.

"Berdasarkan keterangan tersangka, mereka sebelumnya belajar modus operandi ini secara otodidak dari internet. Mereka telah beroperasi dari awal tahun 2018, telah mendapatkan keuntungan kurang lebih Rp 50 juta," tambahnya.

Dari para pelaku, anggota mengamankan 5 unit mobil  berbagai jenis, 50 unit HP, 7 ATM, 3 unit modem, dan caratan log kegiatan illegal access. 

Atas perbuatan tersebut para pelaku diancam pidana penjara paling lama 12 tahun dan denda paling banyak Rp12 miliar sesuai yang tertuang dalam Pasal 30 juncto Pasal 46 subsider pasal 35 juncto pasal 51 ayat 1 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transksi dan Elektronik subsider pasal 378 KUHP.

Loading...
Loading...