Minggu, 21 Januari 2018 17:44 WITA

Kisah Mengerikan bagi Manusia Pemburu Kenikmatan Dunia

Editor: Abu Asyraf
Kisah Mengerikan bagi Manusia Pemburu Kenikmatan Dunia
Syaikh Dr Ahmad Muhammad Mursy Al Toukhi didampingi Ustaz Fadhlan Akbar tampil dalam tablik akbar di Masjid Raya Bukit Baruga Antang, Minggu (21/1/2018).

RAKYATKU.COM - Ketika sebagian orang ditanya, siapakah orang kaya itu? Jawabannya hampir seragam. Orang kaya adalah yang banyak hartanya. Apapun kebutuhan di dunia yang dia inginkan bisa dengan mudah diperoleh.

Ketika pertanyaan kedua dilontarkan, mau mati kaya atau mati dalam keadaan beriman? Jawabannya pun hampir seragam, lebih senang mati dalam keadaan beriman. 

Dua pertanyaan ini menjadi pembuka tablik akbar yang dibawakan ulama asal Mesir, Syaikh Dr Ahmad Muhammad Mursy Al Toukhi di Masjid Raya Bukit Baruga, Antang, Makassar, Minggu (21/1/2018). Tablik akbar ini membahas tema," Mengapa Allah Menurunkan Surah Al Qiyamah dan Surah Al Balad."

Didampingi penerjemah, Ketua DPD Wahdah Islamiyah Makassar Ustaz Fadhlan Akbar Lc MHI, Syaikh Ahmad Muhammad Mursy menceritakan kisah mengerikan yang menjadi nasihat bagi setiap orang untuk memahami tujuan hidup yang sebenarnya.

Surah Al Qiyamah, kata Syaikh, salah satu di antara ayat-ayat yang penting karena membahas hakikat kehidupan manusia. Dalam ayat itu diterangkan untuk apa manusia dihidupkan Alah subhanahu wata'ala.

Banyak manusia yang tidak tahu tujuan hidupnya. Ada yang hidup dengan berlomba mengumpulkan harta, berebut jabatan, membangun kekuatan, hingga berburu kemasyhuran atau popularitas. Keinginan itu, kata Syaikh, manusiawi, tetapi bukan itu tujuan manusia yang sesungguhnya.

Andai itu tujuannya, maka orang-orang Yahudi yang dikenal kaya raya itu makin kepada Allah. Kenyataannya, kekayaan itu membuat mereka kafir kepada Allah.

Manusia tidak dilarang mendapatkan harta sebanyak-banyaknya, jabatan setinggi-tingginya, atau ilmu yang seluas-luasnya. Pertanyaannya, lanjut Syaikh, apakah semua itu semakin mendekatkan kita kepada Allah subhanahu wata'ala. Mestinya, semua kenikmatan yang dimiliki manusia membawanya lebih dekat kepada Yang Maha Kuasa.

Makanya, ketika pertanyaan mau mati kaya atau mati beriman dilontarkan, sebagian besar orang mungkin akan menjawab mati beriman. "Masalahnya, bukan pada matinya seseorang dalam keadaan kaya atau fakir, tetapi bagaimana seseorang mati dalam keadaan beriman. Entah dia kaya atau fakir," kata Syaikh yang mengenakan kopiah hitam dan jas.

Dekan Fakultas Ilmu Islam dan Bahasa Arab Ma'had Syar'i, Kairo, Mesir ini lalu mengisahkan keadaan pada hari Kiamat kelak. Didatangkan dua orang dengan status sosial berbeda pada hari Kiamat. Seorang di antaranya hidup kaya raya saat di dunia. Rumahnya bak istana. Semua makanannya enak dan lezat. Saking banyaknya hartanya, orang tersebut tak tahu istilah fakir atau miskin, "Apa itu fakir?" 
 
Orang ini kemudian dicelupkan ke dalam neraka. Cukup sekali celup. Dia lalu ditanya, "Wahai orang yang paling kaya di dunia, apakah yang engkau rasakan?" Dia mengaku tidak pernah merasakan kenikmatan sedikitpun di dunia. "Baru sekali celup, dia sudah melupakan segala kenikmatan dan kemewahan di dunia," kata Syaikh.

Orang kedua hidup sangat miskin di dunia. Impiannya di dunia, tidak muluk-muluk. Impian paling tinggi hanya bisa punya kamar berukuran 1x1 meter, bisa makan sekali sehari, dan pakaian seadanya untuk menutup aurat. Orang ini kemudian dicelupkan ke dalam surga lalu diangkat kembali dan ditanya, "Penderitaan apa yang engkau alami di dunia?"

Orang tersebut menjawab, "Demi Engkau Ya Allah, sungguh saya tidak pernah merasakan penderitaan sedikitpun di dunia."

Syaikh Ahmad Muhammad Mursy al Toukhi kembali bertanya, "Siapakah orang kaya itu?" Kekayaan itu, katanya, ada dalam hati. Orang yang hatinya senantiasa mengagungkan Allah subhanahu wata'ala, dialah orang yang paling kaya. Dia senantiasa bersyukur, selalu merasa cukup atas nikmat yang diberikan Allah kepadanya.

Pada hari Kiamat, lanjut Syaikh, orang-orang kaya yang tidak beriman juga akan dipermalukan di hadapan seluruh manusia. Salah satu nama hari Kiamat, yakni "yaumul fatihah" atau hari penyingkapan. Semua dosa-dosa manusia akan disingkap. Termasuk dosa-dosa orang kaya yang zalim.

Orang kaya pada hari Kiamat datang dengan memikul seluruh harta di pundaknya. Lalu, dikatakan kepada mereka, "Lihatlah perampok itu. Lihatlah pencuri itu." Allah subhanahu wata'ala akan membuka aib orang-orang kaya yang mengumpulkan harta dengan cara yang haram, cara yang zalim.

Lalu, orang kaya tersebut berusaha menebus dosa-dosanya dengan seluruh harta yang dimiliki, anak, istri, kerabat dekat, dan seluruh manusia. Semuanya ingin dijadikan tumbal, tetapi Allah subhanahu wata'ala tidak lagi memberikan kesempatan. 

"Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya. Sekali-kali tidak dapat, sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak." (Surat Al-Ma'arij: 14-15)

Allah subhanahu wata'ala mengulang-ulang kisah tentang hari Kiamat dalam Alquran. Menurut Syaikh, itu merupakan rahmat Allah agar manusia bisa mempersiapkan diri menghadapi hari yang dahsyat itu. Walau begitu, ada saja kelompok manusia yang tidak mau peduli dengan peringatan itu.

"Tetapi manusia hendak membuat maksiat terus-menerus." (Surat Al-Qiyamah: 5)

Syaikh lalu menjelaskan maknas kata "bal" dalam ayat tersebut. Kata itu, katanya, berfungsi sebagai penyingkap hakikat sesuatu. Contoh, ketika seorang pemuda melamar, biasanya wali perempuan bertanya tentang harta dan lain-lain yang dimiliki. Pemuda ini kemudian menjelaskan semuanya. Wali tidak langsung percaya begitu saja, tetapi berusaha mencari informasi dari pihak ketiga. Ternyata pemuda itu tidak punya apa-apa. Nah, kata Syaikh, Allah ingin mengungkap hakikat kebanyakan manusia di dunia ini dengan kata "bal".

"Allah menyingkap hakikat manusia karena banyak yang hidup dalam kepalsuan dan kebohongan. Ketika dipanggil salat, dia katakan yang penting bukan salatnya, yang penting hatinya baik. Kalau hati baik, pasti masuk surga. Itu dusta," katanya.

Syaikh lalu menjelaskan makna kata "yurid". Dalam bahasa Arab, kata ini termasuk fiil mudhoriy yang bermakna terus menerus berlangsung. Sementara kata "amama" bermakna masa depan. "Kita sekarang berada di hadapan sekelompok manusia yang punya keinginan demikian kuat melakukan atau merencanakan dosa dan kemungkaran secara terus menerus," urai Syaikh.

Apakah Allah subhanahu wata'ala membiarkan dosa dan kemungkaran itu terjadi? Syaikh menceritakan sebuah kisah yang menunjukkan bahwa Allah sebenarnya sayang kepada hambanya. Namun, hamba yang bersangkutan lupa diri dan terus saja mengikuti hawa nafsu hingga ajal menjemputnya.

Seorang pemuda mencari pelacur di tempat lokalisasi. Lalu dibawanya ke hotel dan berzina di sana. Tiba-tiba pintu kamar diketuk. Panik. Pemuda ini berdoa agar Allah subhanahu wata'ala menutup aibnya. Dia bertobat, tidak akan berzina lagi. Setelah pintu dibuka, ternyata orang salah alamat. Pemuda ini selamat.

Beberapa waktu kemudian, keinginan berzina muncul lagi. Ambil wanita baru dan berzina lagi. Pintu kamar kembali diketuk. Pemuda ini kembali bertobat dan berjanji tidak berbohong lagi. Setelah pintu dibuka, ternyata orang salah alamat lagi. Sudah dua kali pemuda ini selamat. 

Selanjutnya, pemuda ini berusaha menghindari zina yang ketiga kalinya. Namun, godaan datang dari teman-temannya. Mereka menyarankan agar tidak perlu ke hotel, lebih aman dilakukan di rumahnya. Maklum, pemuda ini punya rumah yang terpisah dengan orang tuanya. Rencana pun disusun. Pemuda ini meminta izin untuk safar kepada orang tuanya. "Mungkin HP saya tidak bisa dihubungi karena tidak ada sinyal dalam perjalanan," katanya saat meminta izin.

Pemuda ini hidup berempat dengan adik perempuan, ibu, dan ayah. Namun, rumahnya terpisah.

Saat rencana jahat itu sedang berjalan, mendadak, ayahnya sakit. Ibunya meminta adik perempuan mencari pemuda ini. Karena HP tidak bisa dihubungi, ibunya berkata, "Jangan-jangan kakakmu ada di rumahnya yang di sana?" Lalu adik wanitanya datang ke rumahnya. Saat itu, pemuda ini sedang berada di lokalisasi pelacuran menjemput pelacur.

Di rumahnya hanya ada rekan-rekannya sesama laki-laki yang sedang menunggu. Mereka berencana pesta seks. Pemuda ini yang mendatangkan wanitanya. Ketika adik perempuannya datang, rekan-rekannya ini mengira itulah wanita pelacur yang didatangkan. Mereka lalu memaksa adiknya dan memperkosanya.

Tidak lama kemudian, datangnya pemuda ini membawa wanita. Rekan-rekannya bilang, "Wah, ada wanita baru lagi." Pemuda ini heran, "Memangnya sudah ada wanita lain?" Ketika melihat adik kandungnya jadi korban, pemuda ini kemudian mengamuk dan membunuh rekan-rekannya lalu bunuh diri.

"Allah sebenarnya telah mengulur waktu, menutup aibnya, ditutup lagi, ditutup lagi, tetapi dia terus saja berkubang dalam dosa, akhirnya Allah hukum dia," ungkap Syaikh menjelaskan hikmah dari kisah pemuda tersebut.

Syaikh lalu mengutip Surah Thaha ayat 24, Allah subhanahu wata'ala berfirman, "Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”

Kehidupan yang sempit bermakna, tidak adanya ketenangan dalam hidup. Hartanya banyak, kaya raya, namun selalu diliputi kegalauan, kesedihan, dan kekhawatiran. "Ketenteraman jiwa itu tidak bisa dibeli dengan sebanyak apapun uang, tetapi hanya bisa dibeli dengan ketakwaan," nasihat Syaikh sambil mengutip Surah Ath Thalaq ayat 2-3.

"Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”