Rabu, 08 Juni 2016 16:36 WITA

Opini

Kala Macet Dibayar dengan Dahaga

Editor: Almaliki
Kala Macet Dibayar dengan Dahaga

Oleh Muhammad Almaliki

"Assalamualaikum, saya pergi dulu," kataku. Ibu saya lalu membalas salam saya. "Kalau buka puasa pertama, di rumah nah." Saya tidak menjawabnya. Sering sekali saya seperti itu. Toh, ibu tetap tersenyum padaku. Itu kulihat dari kejauhan saat kutapaki kakiku menjauhi pintu rumah.

Ke kantor Rakyatku.com, tepatnya di Jl Toddopuli, saya memberanikan diri naik sepeda. Saya beralasan udara pagi bisa membuat saya bugar dan tentunya tidak bakal lelah-lelah amat mengayuh sepeda. Asal tahu saja, saya tinggal di Kampung Baru, di daerah pedalaman Antang. Sawah hijau masih terbabar. Sepanjang jalan, saya ditegur tetangga, ia heran mengapa saya memberanikan diri bersepeda ke kantor.

"Kenapa tidak naik motor?"

"Ah tidak, saya lagi mau saja naik sepeda," ujarku sembari pelan-pelan berkelok meninggalkannya.

Sepanjang perjalanan, banyak hal unik saya temui. Seperti yang saya utarakan di bawah ini.

Pertama, saya menepi ke bank tempat saya menabung. Sepagi itu. Saya sempat terganggu, karena kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM) saya, uangnya hilang beberapa, usai saya ingin menarik namun tidak berhasil dikarenakan ATMnya rusak.

Kuhentikan sepeda. Kulangkahkan kakiku, di depan bank. Satpam lalu membukakan saya pintu. Ia ramah sekali. Senyumnya terpancar bahagia. Badannya juga tegap kekar dan tak lupa menegurku dengan teramat santun. Berselang tak lama saya berbicara perihal keinginanku, ia lantas mengambil nomor antrean, kemudian memberikan pada saya dan disilakanlah saya duduk.

Di ruangan yang dingin karena pendingin ruangan itu, ada dua pelayan bank berkerudung yang khusus melayani keluhan di sana. Satunya, sudah melayani penabung, satunya lagi tidak. Saya lantas bergumam dalam hati, "kenapa nomor antrean saya lama sekali dipanggil? Padahal, pelayan satunya tidak kelihatan sibuk," sungguh kejam pikiran saya--ini tidak perlu dicontoh.

Nyaris setengah jam menunggu, nomor antreanku disebut. Saya mendatangi meja pelayan kedua, dan mengutarakan keluhan saya. Ia menyambutnya dengan senang hati dan sesekali senyumnya merekah. Manis sekali. Ternyata, tidak sampai beberapa menit, soalan tentang ATM itu lalu selesai dengan sekejap. Uang saya kembali.

Loading...

Saya tersenyum sepanjang jalan mengendarai sepeda sambil bernyanyi riang. Kulihat penjaga toko di Borong Raya menyapu di depan tokonya dengan wajah yang segar. Ia cantik. Dan beberapa lama kupandang, ternyata ia teman sekolah saya dulu. Tak sempat kutegur, sebab jam masuk kantor terus memburuku.

Sampai di kantor, saya parkir sepeda dengan wajah berseri-seri. "Puasa pertama saya harus semangat," ujarku dalam hati. Semangat itu pula, yang membuat saya betah menggubah berita di Ruang Redaksi Rakyatku.com. Hingga saya lupa, saya harus menemani ibu saya berbuka di rumah.

Hari hampir gelap, saya belum juga beranjak dari memelototi berita di laptop saya. Tak terasa, sudah hampir berbuka puasa. Pengabar muda dari redaksi Rakyatku.com kian memadati ruangan kantor kami yang kecil nan menyenangkan. "Kita kumpul semua, buka puasa pertama kita harus kumpul," ujar Direktur saya kepada para awak muda redaksi Rakyatku.com yang dia anggap adik-adiknya.

Jalangkote atau pastel, nasi campur, dan es buah lalu terhidang di depan kami. Itulah hasil patungan yang sudah dijadwal oleh tim redaksi. Kami makan, menyicip, tak lupa bersuka-cita pula bertakzim. Sungguh tak ada sekat di dalamnya. Saya kenyang, pada akhirnya.

Laptop lalu kukemas, saya bersiap pulang. Lampu jalan sudah menyala terang. Puasa pertama sudah saya tuntaskan. Jalanan sepanjang Toddopuli hingga ke Antang juga lengang. Ini unik, biasanya setiap sore hingga malam, jalan yang kulalui jadi langganan macet.

"Kenapa tidak buka di rumah? Saya tunggu tommi lagi," kata ibu saya, mencegatku sebelum saya mengutarakan apologi saat sampai di rumah.

"Buka ka di kantor Ma," ujarku singkat. Saya lantas disuguhi pisang coklat keju buatannya.

Sambil mengunyah pisang goreng ibu, saya berpikir dan berharap, "biarlah seluruh warga kota berpuasa agar macet terurai, orang-orang senang tersenyum, para kaum dhuafa dapat bantuan terus dan yang pastinya makan enak tiap hari."

Tags
Loading...
Loading...