Rabu, 08 Juni 2016 09:15 WITA

Puasa Ujian Kejujuran Diri (2)

Kejujuran Penjual Ikan

Editor: Almaliki
Kejujuran Penjual Ikan

Oleh Armin Mustamin Toputiri

RAKYATKU.COM - Seperti lazimnya, penjual ikan dan sayur-mayur yang berkeliling menjajakan jualannya di area perumahan tempat saya bemukim, rutin setiap pagi. Tapi saat bulan Ramadan, para penjual ikan dan sayur-mayur itu, mengubah jadwal rutin setiap sore. 

Ia menyesuaikan kondisi ibu-ibu saat bulan Ramadan yang turut mengganti jadwal memasak. Pagi berganti sore. Dan sore kemarin, sambil menunggu jadwal buka puasa, saya memilih menuntaskan bacaan novel seperti saya sampaikan pada tulisan kemarin.

Saat tengah asyiknya membaca, sontak saya dikejutkan teriakan berulang dari seorang penjual ikan yang lewat tepat depan rumah saya. Menyentakkan, tak lain karena ia berteriak dengan kalimat yang sama sekali tak lazim. Rangkaian kalimat diteriakannya, bahkan sangatlah paradox.

Secara berulang, ia berteriak dalam bahasa Makassar. “Oeee buuu, jual ikan buuu… !”, lalu dilanjutkan dengan teriakan, “Oeee, jual ikan busuk buuu …!” Sungguhlah mencengangkan. Benak saya terus bertanya- tanya, apakah saya tak salah dengar. Andai benar, dia pastilah penjual ikan yang tak waras.

Mana mungkin ada penjual ikan sebodoh itu. Jangankan mau meneriakkan ikan dijualnya
telah busuk, jujur pada pembeli saja, sudah sangatlah langka. Lantaran seorang ibu depan
rumah saya mencegatnya, saya pun ikut menghampiri. 

Loading...

Benar, ikan dijualnya memang sudah mulai membusuk. Musababnya, karena ikan yang dijualnya itu, dijajakan sejak pagi hari. Penjual ikan ini benar-benar sangat sportif. Jujur pada kondisi ikan yang tengah dijualnya. Tapi karena kejujurannya, apakah masih ada pembeli yang meminati jualannya. 

Itulah arti dan dilema utama sebuah kejujuran. Buktinya, ibu tetangga rumah saya, gagal membelinya. Saya katakan padanya, terimalah sebagai risiko kejujuran. Ikan dijualnya, pasti tak laku-laku. “Saya puasa pak, saya tak mau berbohong”. Sekali lagi, ia memberi jawaban polos. Sangat jujur. 

Saya merogoh kantong, lalu memberinya selembar uang. Sekelebat ia membalasanya
dengan beberapa ekor ikan yang telah busuk itu. “Tak usah Daeng!”. Ia melongo. “Uang itu
penghargaan atas kejujuranta Daeng”. Terima kasih, lantas berlalu. Saya hanya bisa terpana.

Phinisi Faisal-Makassar, 03 Ramadhan 1437 H/2016 M

Tags
Loading...
Loading...