Minggu, 14 Januari 2018 21:00 WITA

Legislator Sulsel Ini Ajak Warga Malino Peduli Lahan Kritis

Penulis: Sartika Marzuki
Editor: Aswad Syam
Legislator Sulsel Ini Ajak Warga Malino Peduli Lahan Kritis
Rahmansyah saat menggelar sosialisasi produk hukum daerah di Malino, Minggu (14/1/2018).

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Selatan (Sulsel) Rahmansyah, menggelar Sosialisasi Produk Hukum Daerah tentang Pengendalian Lahan Kritis. Kegiatan ini digelar di Masagena Cottage, Jl Karaeng Pado, Kelurahan Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Sabtu (13/1/2018).

Sosialisasi Perda Nomor 1 Tahun 2017 dihadiri sebanyak 200 orang. Beberapa peserta tampak antusias mengajukan pertanyaan tentang peraturan dan metode penanggulangan lahan kritis.

Rahmansyah dalam penyampaiannya mengatakan, permasalahan lingkungan, utamanya lahan kritis, bukan hanya tanggungjawab pemerintah, namun seluruh kalangan.

"Peraturan daerah ini menjadi landasan dan acuan kita untuk sama-sama merehabilitasi lahan-lahan kritis di Sulawesi Selatan, termasuk yang ada di dataran tinggi Malino," kata Rahmansyah dalam pemaparannya.

Legislator dari daerah pemilihan (Dapil) Gowa-Takalar itu, juga mengajak Ustaz Iqbal Jalil sebagai pembicara, guna membahas persoalan lingkungan dari perspektif agama Islam. Sebab, menurut Rahmansyah, persoalan lingkungan itu juga diatur dan dianjurkan dalam ajaran agama Islam.

"Dalam agama kita juga ada tuntunan untuk menjaga kelestarian alam dan merawat lingkungan kita sebagai sumber kehidupan umat manusia," tuturnya.

Ustaz Iqbal Jalil menyampaikan, syariat Islam sangat sangat memperhatikan kelestarian alam. Kaum Muslimin, ungkap Ustaz Iqbal, tidak diperbolehkan membakar dan menebangi pohon tanpa alasan dan keperluan yang jelas. Seperti yang tertuang dalam Surah ar-Rum.

"Kerusakan alam dan lingkungan hidup yang kita saksikan sekarang ini merupakan akibat dari perbuatan umat manusia. Allah Azza wa Jalla menyebutkan firman-Nya: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)," terang dia.

Dialog tentang pengendalian lahan kritis tersebut telah membuka pengetahuan baru masyarakat Malino mengenai gerakan kepedulian lingkungan. Seperti yang dituturkan Firman, tokoh pemuda Kecamatan Tinggi Moncong. 

"Kita akhirnya paham bahwa sebagai masyarakat, kita adalah ujung tombak penjaga kelestarian lingkungan dan subur lahan pertanian," pungkasnya.