Minggu, 14 Januari 2018 14:25 WITA

Pasca Kerusuhan, Tunisia Umumkan Reformasi

Editor: Aswad Syam
Pasca Kerusuhan, Tunisia Umumkan Reformasi
Aksi demonstrasi di Tunisia

RAKYATKU.COM, TUNIS - Demonstrasi anti-penghematan yang melanda Tunisia dalam beberapa hari ini, membuat pemerintah setempat mengumumkan gelombang reformasi sosial. 

Protes pecah menjelang peringatan hari penggulingan Presiden Zine al-Abidine Ben Ali. Pemerintah menggelar pertemuan darurat sebagai tanggapan atas demonstrasi yang telah terjadi. Ada lebih dari 800 orang yang ditangkap.

Pejabat setempat mengatakan, rencana telah diajukan ke parlemen untuk mereformasi perawatan medis, perumahan dan meningkatkan bantuan untuk orang miskin.

Demonstrasi dimulai awal bulan ini, setelah pemerintah mengumumkan pajak tahun baru dan kenaikan harga dalam anggaran 2018.

Pada bulan Desember Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan kepada Tunisia, bahwa pihaknya perlu mengambil "tindakan mendesak" untuk mengurangi defisit anggarannya.

Partai politik, serikat pekerja dan pengusaha bertemu pada Sabtu kemarin untuk merundingkan krisis di tengah demonstrasi.

Pemerintah telah gagal menyelesaikan pengangguran nasional dan kemiskinan, juga industri pariwisata vital negara tersebut. Mereka telah berjuang untuk membangun kembali setelah serangan teror yang menargetkan warga negara asing pada 2015 lalu, yang menewaskan puluhan orang.

Orang-orang telah turun ke jalan melawan kebijakan pengetatan anggaran, meskipun Perdana Menteri Yousef Chahed mencoba meyakinkan warganya bahwa 2018 akan menjadi tahun "sulit" terakhir di negara itu.

Juru bicara kementerian dalam negeri Khlifa Chibani kemarin mengatakan, ada 803 orang telah ditangkap sepanjang minggu ini, karena dicurigai melakukan kekerasan, pencurian dan penjarahan selama aksi demonstrasi.

Dia mengatakan, 97 anggota pasukan keamanan negara itu telah terluka dalam kerusuhan tersebut. Namun tidak menyebut berapa banyak pemrotes yang telah terluka.

Kantor hak asasi manusia PBB menyatakan keprihatinannya pada hari Jumat, karena sejumlah besar ditahan. Namun, Presiden Tunisia, Beji Caid Essebsi menuduh pers asing "memperkuat" kerusuhan dan merusak citra negara tersebut.

Beji kemudian menggelar perundingan selama dua jam dengan partai politik, serikat pekerja dan pengusaha besar negeri itu pada Sabtu, dan mencoba memutuskan reformasi untuk mengurangi ketegangan nasional.

Menteri Sosial, Mohammed Trabelsi mengatakan, pemerintah mengusulkan pembayaran kesejahteraan yang meningkat kepada mereka yang membutuhkan sebesar 170 juta dinar (USD 70 juta; 50 juta poundsterling).

"Ini akan mempengaruhi sekitar 250.000 keluarga," katanya. "Ini akan membantu orang miskin dan kelas menengah," tambahnya.

Dia juga menyinggung rencana untuk menjamin perawatan medis dan reformasi perumahan, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Tags

Berita Terkait