Sabtu, 13 Januari 2018 16:38 WITA

Stok Beras di Sulsel, SYL: Aman Hingga 20 Bulan

Penulis: Azwar Basir
Editor: Al Khoriah Etiek Nugraha
Stok Beras di Sulsel, SYL: Aman Hingga 20 Bulan

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo (SYL), Kepala Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Dirjen Kementan) Sumarjo Gatot Irianto, Kepala Bulog Divisi Regional Sulawesi Selatan, Lusiana Gobel dan Wali Kota Makassar Moh Ramdhan "Danny" Poman melakukan operasi pasar di sejumlah pasar utama, di Kota Makassar, Sabtu (13/1/2017).

Selain itu, rombongan tersebut juga meninjau gudang Bulog Divre Sulsel. Operasi pasar dan kunjungan ke gudang Bulog ini untuk mengetahui perkembangan harga dan stok beras di Sulsel. Dari tinjauan tersebut, diketahui, Ketersediaan beras di Bulog Divre Sulsel mencapai 82.000 ton. Stok beras ini cukup untuk ketahanan 20 bulan ke depan.

Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan sejauh ini stok beras di Sulsel aman, bahkan melebihi kebutuhan Sulsel dan daya tahan hingga 20 bulan ke depan. 

"Kita sudah cek di lapangan, stok aman, ketahanan untuk 20 bulan ke depan. Sulsel juga siap mengirim beras seluruh provinsi yang ada di Indonesia, kita tinggal menunggu perintah Presiden RI melalui menteri," ujar Syahrul seusai melakukan tinjauan di pasar tradisional dan gudang Bulog. 

Stok yang dimiliki Sulsel kini mencapai 82.000 ton dan over stok 2,6 juta ton. Diperkirakan, Sulsel akan kembali panen beras pada 17 Januari 2018 mendatang. 

"Rencana impor yang dicanangkan tidak haram, kita maklumi kondisi yang ada. Ketersediaan kita di Sulsel merupakan bagian dari emergency system, semua bupati bekerja keras, Sulsel bisa suplai daerah lain," sebutnya. 

Saat ini, Pemprov dan Bulog serta Satgas Polda Sulsel terus melakukan koordinasi. Sulsel juga membantu provinsi lain, pada bulan Januari 2018, seperti DKI Jakarta. Dimana Sulsel telah mengirim 50.000 ton. Sementara itu, untuk Kota Medan, Pekanbaru, Palembang, Bengkulu, Jambi, Karawang dan Provinsi Maluku sebesar 1.000 ton, Papua 2.000 ton,  Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan masing-masing 1.000 ton.