Kamis, 11 Januari 2018 12:44 WITA

7 Wakil Kepala Daerah yang Gagal Maju di Pilkada Serentak Sulsel 2018

Editor: Mulyadi Abdillah
7 Wakil Kepala Daerah yang Gagal Maju di Pilkada Serentak Sulsel 2018
Ilustrasi: Ali Fadly

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Sebanyak 7 wakil kepada daerah (wakil wali kota/wakil bupati) di Provinsi Sulsel, gagal maju pada Pilkada Serentak 2018. Dari ketujuh nama itu, kisahnya pun beragam.

Rata-rata, ketujuh tokoh politik/birokrat tersebut terkendala pada kendaraan politik. Mulai dari tak diusung oleh tempat partainya mengabdi, hingga tidak mendapat teman koalisi.

Dari 12 kabupaten/kota yang menghelat kontestasi politik, ketujuh nama yang batal memasuki arena yaitu: Wakil Wali Kota Makassar, Syamsu Rizal (Demokrat); Wakil Bupati Pinrang, Darwis Bastama (Golkar); Wakil Bupati Bantaeng, M Yasin (NasDem); Wakil Bupati Enrekang, Amiruddin (NasDem); Wakil Bupati Sinjai, Andi Fajar Yanwar (Hanura); Wakil Bupati Luwu, Amru Saher (PKS); dan Wakil Bupati Wajo, Andi Syahrir Kube (NasDem).

Kemiripan kasus gagalnya sang wakil, terjadi di Makassar, Pinrang, Bantaeng, Enrekang dan Wajo. Tempat parpolnya bernaung, malah memilih jagoan lain. Bahkan, Pilkada Enrekang hampir pasti hanya akan diikuti oleh satu pasangan calon atau 'kotak kosong'.

Kasus lain dengan kemiripan cerita, dialami oleh Andi Fajar Yanwar dan Amru Saher. Meski partai tetap memberi support, namun apa daya, tak ada kawan yang 'setia'. 

Fajar hanya menggenggam tiket partainya, tanpa ada sokongan tambahan. Sementara Amru, nyaris memasuki gelanggang, andai saja ada satu partai lagi yang rela menyerahkan dukungannya. Amru hanya mendapat golden tiket dari PKS dan PAN yang total kursinya 6 di DPRD Luwu. Sementara, minimal 7 kursi yang dipersyaratkan.

Direktur Epicentrum Politica, Iin Fitriani menilai, banyaknya wakil kepala daerah yang gagal maju dikarenakan beberapa faktor.

Misalnya, lanjut Iin, wakil tersebut tidak dapat memberikan pengaruh yang kuat sebagai petahana. Terbukti, para wakil tersebut kalah pamor ketimbang calon-calon yang berhasil maju lainnya. 

"Memang tidak mudah mempertahankan kepercayaan masyarakat yang sbnrnya mereka diuntungkan dengan posisi incumbent. Popularitas yang tinggi tidak menjadi jaminan seseorang mudah diinginkan oleh pemilih," jelas Iin, saat dikonfirmasi Rakyatku.com, pada Kamis (11/1/2018).

Selain itu, para 02 daerah tersebut tidak memiliki kesiapan menghadapi pilkada berikutnya, pasca mereka dilantik pada periode pertamanya. 

"Sebab beberapa calon yang gagal pun selalu berusaha kembali untuk memenangkan pilkada di masa 5 tahun berikutnya. Jadi para wakil seharusnya waspada sejak mulai menjabat," paparnya.

Perihal banyak yang tidak dirsetui oleh parpol pengusungnya, Iin beranggapan, hal tersebut wajar. Karena, partai para sang wakil tersebut berpikir realistis dan tentu ingin menang. 

"Jadi wajar saja bila partai pada akhirnya tidak mendukung kadernya sendiri untuk maju, apabila tidak ada progress dari kadernya tersebut untuk kemungkinan menang," tutup Iin.