Senin, 08 Januari 2018 14:26 WITA

Pemerintah Garap Perbaikan Kebijakan Pengelolaan Limbah

Editor: Andi Chaerul Fadli
Pemerintah Garap Perbaikan Kebijakan Pengelolaan Limbah
sumber: situs Kemenperin

RAKYATKU.COM - Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian dan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-bangsa/United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia sepakat menyusun rekomendasi mengenai kebijakan pengelolaan limbah industri di Tanah Air.

Tujuan sinergi ini antara lain untuk mewujudkan prinsip industri hijau. Serta peningkatan daya saing dan membangun manufaktur nasional yang berkelanjutan.

“Untuk itu, kami menyelenggarakan seminar agar bisa terjadi dialog dan terkumpul ide pembelajaran dari semua pemangku kepentingan,” kata Kepala BPPI Kemenperin, Ngakan Timur Antara di Denpasar, Bali, Senin (8/1/2018). 

Dengan nanti adanya prosedur tetap, lanjutnya, diharapkan dapat mengurangi atau menghilangkan penggunaan bahan pencemar organik yang persisten atau Persistent Organic Pollutants (POPs) dalam proses produksi di industri.

“Salah satu bahan kimia berbahaya yang terdaftar sebagai POPs dan disinyalir masih digunakan di Indonesia adalah Polybrominated Diphenyl Ethers (PBDEs). Ini biasanya digunakan sebagai flame retardant (penghambat nyala api) pada proses produksi,” jelasnya.

Oleh karena itu, Ngakan meminta kepada sejumlah manufaktur seperti industri plastik, tekstil, alat angkut, dan elektronika agar menggunakan teknologi pengolahan limbah yang sesuai standar. 
“Apabila hal ini diimplementasikan secara baik di Indonesia. Tentunya membawa manfaat sebesar-besarnya terhadap keberlanjutan sumber daya alam, kelestarian fungsi lingkungan hidup dan peningkatan kesejahteraan rakyat,” kata dia.

Menurut Ngakan, upaya kolaborasi Kemenperin dan UNDP ini sebagai wujud komitmen karena Indonesia telah meratifikasi Konvensi Stockholm melalui Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2009 tentang Pengesahan Stockholm Convention On Persistent Organic Pollutants (POPs). 

Berdasarkan Konvensi Stockholm, telah teridentifikasi 12 bahan yang dikategorikan sebagai bahan pencemar organik persisten yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan hidup.