Selasa, 07 Juni 2016 09:30 WITA

Puasa Ujian Kejujuran Diri (1)

Pesan Kejujuran Ki Blaka

Editor: Almaliki
Pesan Kejujuran Ki Blaka

Oleh Armin Mustamin Toputiri

Sore kemarin, akhirnya saya menuntaskan bacaan sebuah novel menarik, “Blakanis” karya
Arswendo Atmowiloto (Gramedia Pustaka Utama, 2008). Dan sejujurnya, ini adalah salah
satu perilaku tak jujur yang saya lakukan dalam memaknai Ramadan sebagai bulan yang
suci. 

Banyak waktu, harusnya saya habiskan membaca al-Qur’an, bukan membaca novel. Makanya, kelakuan saya ini ---sebaiknya ---jangan ditiru. Tapi novel setebal 283 halaman ini kisahnya sangatlah menarik. 

Mengisahkan kehidupan di kampung Blaka yang diayomi dari seorang figur kharismatik, bernama Ki Blaka. Masa lalunya kelam, tapi kemudian memilih menghuni lahan kosong yang tak jelas pemiliknya. Di sanalah ia menghabiskan waktu hingga masa tuanya. Membina kehidupan masyarakatnya untuk selalu berdaya upaya hidup jujur.

Kampung Blaka, mulanya dihuni beberapa orang saja, namun belakangan ramai dikunjungi banyak orang dari berbagai latar, jabatan dan profesi. Tak lain karena semuanya merindu pada kejujuran. Terutama kejujuran pada diri sendiri. Bosan bergelimang dengan kepalsuan.

Kampung Blaka, mentradisikan kejujuran bagi siapa saja yang telah memasuki wilayah itu. Sekalipun demikian, tak ada sanksi bagi yang tak mau jujur. Termasuk menuntut kejujuran
yang lain. Ataukah mengklaim diri paling jujur. Kata Ki Blaka, “Bersikap jujur adalah pilihan pribadi. Kejujuran tak berarti menjadi sakti. Tak menjadi kebenaran jika dilakukan banyak orang. Apalagi berbentuk gerakan. Kalau itu dilakukan, kita mengulangi lagi kesalahan."

Loading...

Ki Blaka juga berpesan, kejujuran janganlah dipaksakan dan mempersulit diri. Yang penting kata Ki Blaka, hati kita berniat untuk jujur dan mau melakukan. 

Sejauhmana kita jujur, yang menandai adalah diri sendiri. Kejujuran kata Ki Blaka, tak harus dibandingkan dengan ukuran kejujuran umum, sehingga menilai kejujuran diri sendiri, seolah lebih jujur dari yang lain.

Lanjut Ki Blaka, keadaan seperti itu sangat berbahaya, karena “sesungguhnya musuh utama kejujuran bukanlah kebohongan, melainkan kepura-puraan. Baik pura-pura jujur, maupun
pura-pura bohong.” 

Dan menamatkan novel ini saat sedang menunaikan ibadah puasa, kian menyadarkan diri saya, bahwa berpuasa adalah ujian kejujuran diri. Pamrih tanpa pretensi.

Phinisi Faisal-Makassar, 02 Ramadan 1437 H/2016 M

Tags
Loading...
Loading...