Jumat, 05 Januari 2018 06:00 WITA

Cita-cita Aisyah Yang Belum Tercapai

Penulis: Himawan
Editor: Adil Patawai Anar
Cita-cita Aisyah Yang Belum Tercapai
Aisyah.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Aisyah masih memiliki beberapa mimpi yang belum terwujud sebelum kematiannya. Sama seperti orang pada umumnya, Aisyah juga memiliki impian bisa membahagiakan orang tuanya. 

Muharni, sahabat Ica mengatakan, Aisyah ialah orang yang sangat sederhana. Satu sikap yang membuat Muharni kagum mengingat Aisyah berasal dari keluarga mampu. Bahkan yang menambah kekaguman Muharni, demi lepas dari tanggungan orang tua, Aisyah sempat membuka usaha jualan cokelat. 

"Dia sering tanya ke aku waktu masih kuliah, kamu ini hebat Muharni kamu kuliah tapi tidak pernah minta sama orang tua. Aku juga ingin seperti itu. Akhirnya dia jualan cokelat dan lain-lain," kata Muharni saat kepada Rakyatku.Com, Kamis (4/1/2018).

Mimpi lain yang ingin digapai Aisyah ialah melanjutkan pendidikan S2 tanpa bantuan orang tua. Untuk itu, bersama Muharni, Aisyah mencoba mendaftar beasiswa. Namun saat itu Tuhan belum meluluskan keduanya. Pada waktu itu ia ingin melanjutkan pendidikannya di Pascasarjana Unhas. 

Rencananya, tahun ini Aisyah kembali bertekad mendaftar beasiswa yang dikeluarkan pemerintah. Meskipun telah lulus sebagai laboran di laboratorium Peternakan Unhas, tetapi niatnya untuk menambah ilmu tidak pupus. Diakui teman-temannya Aisyah sudah menyiapkan berkas-berkas pendaftaran beasiswanya. 

Selain itu, hal yang paling diingat Muharni dari Aisyah ialah sikap Aisyah yang suka menolong. Muharni mengakui beberapa kali Aisyah membantunya mulai dari membantu menyiapkan tempat tinggal, makanan, hingga mengantarnya dengan menggunakan motor. 

"Kami tidur bersama, salat bersama, mengaji bersama, makan bersama. Terakhir dia kasi aku oleh-oleh dari Bali lepas liburan. Baju dan sarung bali yang sampai sekarang masih aku pake. Dia pengertian dan suka menolong saya. Kemanapun mencari, saya tidak bisa mendapatkan teman seperti dia," tambah Muharni. 

Kini Aisyah telah pergi. Di pelukan ayahnya, ia menghembuskan nafas terakhirnya. Tiga ayat terakhir dari surat Al Mutaffifin dalam alquran dan kalimat syahadat menjadi pertanda ia menghembuskan nafas terakhirnya. 

Mendung mengiringi kepergiannya. Ia dimakamkan tepat pukul 16.05 wita di salah satu pemakaman keluarga LDII di Kecamatan Moncongloe, kabupaten Maros. Ia meninggal di usia yang masih sangat muda, 23 tahun. Aisyah mengikuti kedua kakaknya yang telah dipanggil sang pencipta lebih dulu, juga dalam keadaan salat.