Jumat, 29 Desember 2017 19:38 WITA

Penderita Kanker di Maros Ini Ungkap Pelayanan Rumah Sakit yang Miris

Penulis: Muh. Basri
Editor: Adil Patawai Anar
Penderita Kanker di Maros Ini Ungkap Pelayanan Rumah Sakit yang Miris
Mus Muliadi (22), penderita kanker tulang di Maros.

RAKYATKU.COM, MAROS - Sudah empat bulan lebih Mus Muliadi (22), warga Dusun Jambua Desa Bonto Marannu Kecamatan Moncongloe menderita kanker tulang atau Osteosarcoma. Bahkan kondisinya saat ini sangat memprihatinkan dan semua aktivitasnya dilakukan di atas kasur tipis. 

Saat komunitas Jurnalis Maros, Majourity bertandang ke rumahnya, Jumat (29/12/2017), Mus Muliadi yang tak mengenakan baju terbaring lemas dengan badan kurusnya. Dia berbaring terlentang dengan kaki kiri benjolan sebesar kepala orang dewasa di bagian lututnya.

Perwakilan Majourity Romy mengaku mendapat informasi tentang warga Dusun Jambua ini, pihaknya langsung mengumpulkan dana dan kemudian disalurkan. Selain uang tunai, katanya, pihaknya juga memberikan bingkisan. Selain itu Kapolsek Moncongloe, Iptu Abdul Malik juga nampak hadir bersama Kepala Desa Bonto Marannu, Darman. Kedatangan Darman untuk menyalurkan bantuan yang berasal dari swadaya masyarakat.

"Alhamdulillah ini kedua kalinya. Untuk hari ini kami berhasil mengumpulkan senilai Rp 4.810.000," katanya. 

Sementara itu ibunya, Hadinah bercerita tentang kondisi yang dialami anaknya. Menurutnya, apa yang diderita anaknya ini sudah empat bulan. “Awalnya suka mengeluh sakit lutut dan kakinya tapi dianggap biasa saja karena setelah sembuh dia kembali bekerja,” paparnya.

Namun selanjutnya justru semakin sakit dan muncul benjolan disekitar lututnya.

Loading...

"Pertama itu saya bawa ke Puskesmas Moncongloe terus dirujuk ke RSUD Salewangang,  di rujuk ke RS Tadjuddin Chalid dan ke RS Wahidin kemudian dirawat disana dua kali," katanya.

Hadinah mengisahkan, pada perawatan pertama, pihak RS Wahidin tidak melakukan tindakan apapun selama seminggu, dokter pun menyarankan untuk pulang. Kemudian pada perawatan kedua selama 11 hari.

"Dokter langsung bilang anak saya harus diamputasi karena sudah parah. Saya kaget tidak punya biaya. Jadi saya meminta agar dipulangkan saja," akunya.

Lebih lanjut kata dia, setelah pulang dari rumah sakit ia mencoba mengobati anaknya dengan cara pengobatan alternatif di Palu. Alasannya karena di rumah sakit tak ada perubahan, apalagi dia hanya menggunakan KIS sehingga tidak begitu diindahkan oleh pihak rumah sakit.

Di Palu dia mengaku berobat di salah satu mantri disana. Saat berobat disana anaknya diberi suntikan dan bengkak di kaki anaknya sempat berkurang. Namun karena tidak memiliki biaya untuk kembali ke Palu bengkak dibagian lututnya kembali membesar. Bantuan bisa Anda salurkan langsung atau menghubungi langsung Kepala Desa di nomor 085342478636.

Loading...
Loading...