Minggu, 10 Desember 2017 05:31 WITA

OPINI

Kids Zaman Now dan Fenomena Hoax

Editor: Sulaiman Abdul Karim
Kids Zaman Now dan Fenomena Hoax
Penulis opini, Andika Putra.

KIDS zaman now merupakan sebuah kalimat yang sudah tidak asing lagi di telinga dan bahkan akhir-akhir ini telah menjadi viral di media sosial. jika diartikan kata demi kata "kids" "zaman" dan "now", kids berarti anak-anak, zaman berarti waktu atau masa, dan now berarti sekarang. Jika diartikan secara keseluruhan, kids zaman now berarti anak masa sekarang.

Kids zaman now adalah sebuah kalimat yang disematkan kepada generasi millennial atau generasi saat ini. Kids zaman now menjadi ramai diperbincangkan di media-media sosial akibat beberapa postingan-postingan atau perilaku yang tak sepantasnya mereka pertontonkan. 

Salah satu contoh saat ini adalah beberapa postingan di group-group facebook dengan memposting gambar-gambar atau video tidak pantas (pornografi). Akibat dari postingan tidak pantas yang diberi caption kids zaman now mengundang banyak komentar pedas dari banyak warganet. Hal ini juga menjadi alasan banyaknya warga net membanding-bandingkan antara anak-anak zaman dulu yang lahir tahun 90-an dengan anak-anak saat ini. 

Anak-anak tahun 90-an menghabiskan waktu bermain bersama teman-temannya dengan memainkan permainan tradisional, namun anak-anak generasi millennial atau sering disebut kids zaman now di era modernisasi (perkembangan Televisi, handphone dan semacamnya) membuat anak-anak menjadi sibuk bermain dengan gadgetnya masing-masing. 

Namun tidak hanya sampai di situ, tetapi mereka juga sudah pandai dalam berpacaran layaknya orang dewasa. Banyak akibat yang kemudian ditimbulkan dari kebiasaan buruk tersebut diantaranya sifat individualisme yang semakin terlihat dan tidak hanya sampai di situ. 

Tetapi mereka juga acap kali menjadi salah satu penyebar berita hoax atau berita-berita bohong tanpa melihat sumber dan kebenaran berita tersebut, mereka langsung meng share keberbagai media-media sosial. Akibatnya hoax tersebut tak lagi terkendali karena banyaknya orang yang menshare ulang.

Salah satu contoh yang sering kali dijumpai di beberapa media sosial adalah "sebarkan berita ini ke sepuluh teman kamu, dan jangan berhenti di kamu. Jika tidak, kamu akan mengalami bahaya dalam jangka waktu 10 hari"  ini merupakan salah satu contoh kecil peredaran berita hoax yang bahkan sampai ribuan atau jutaan kali dibagikan.

Logikanya di mana sehingga tanpa mengedarkan berita tersebut akan membuat seseorang mengalami bahaya ? Namun itulah fakta bahwa genarasi yang menyebut dirinya kids zaman now menjadi salah satu penyebar berita hoax. Mereka menyebarkan berita-berita yang sumbernya masih harus dipertanyakan.

Generasi yang mengatasnamakan diri sebagai kids zaman now mudah menerima sesuatu tanpa menyaring sumber dan kebenaran suatu informasi, karena penyebaran hoax tidak hanya berdampak pada kredibilitas dirinya sehingga orang lain tak lagi percaya padanya, tetapi juga akan berdampak buruk pada orang lain yang membacanya karena berita hoax tersebut mampu menyulut emosi para pembaca.

Pentingnya menggunakan media sosial dalam proses penyebaran informasi harus selalu disertai dengan pemahaman akan kebenaran dan kredibilitas sumber suatu informasi agar tidak menjadi generasi penyebar dan penyebab berita hoax tersebut beredar. Oleh karenanya generasi kids zaman now harus cerdas dalam memilah-milah informasi yang bermanfaat dan terpercaya agar tidak menjadi penyebab penyebaran berita bohong.

Salah satu masalah besar yang ditimbulkan akibat dari penyebaran berita hoax adalah dapat menjadi ancaman bagi suatu negara akibat dari tersulutnya emosi dari pembaca sehingga hoax mampu menjadi pemecah belah bangsa. Untuk menghindari hal itu perlu ditekankan pada pendidikan karakter anak, misalnya saja melakukan bakti sosial yang tidak hanya akan menghilangkan sifat individualisme anak tetapi juga akan mengurangi penyebaran berita hoax.

Penulis: Andika Putra, S.Sos.
Founder www.lorongka.com
 

Tags