Selasa, 05 Desember 2017 05:31 WITA

Opini

Piala Dunia, Kapitalisme Sepakbola dan Babak Awal Runtuhnya Hegemoni Barat

Editor: Adil Patawai Anar
Piala Dunia, Kapitalisme Sepakbola dan Babak Awal Runtuhnya Hegemoni Barat

Semua suku-bangsa, negara-benua sejatinya akan menolak hegemoni dan dominasi, dikarenakan keduanya merupakan cikal bakal lahir dan berkembangnya prinsif kapitalisme, dari negara negara koloni (penjajah) dalam bentuk dominasi dan hegemoni, inilah yang menciftakan gap dan kesenjangan dalam infrastruktur juga supra-struktur blok blok antara Timur dan Barat.

Termaksud dalam urusan sepakbola. Hingga itulah sebabnya kadangkala muncul pertanyaan yang awam dibenak kita,  mengapa permainan sepak bola barat lebih maju ketimbang sepakbola negara Negara Timur seperti di benua Asia dan Afrika. Salah satu faktor yang menyebakan ini, bukan saja karena persoalan pemain, dan gaya permainan, skill, dan kemampuan menggiring sikulit bundar semata, tentu hal ini tidak selalu benar.

Karena diluar konteks semua ihwal bisa dicurigai ada hubungannya dengan kapitalisme, siapa sangka kalau hasil dari ekspansi, dan eskplorasi negara negara koloni barat, meraup untung dari negara negara Asia Afrika yang (dominan) jadi jajahan di masa silam.

Dan dari proses ekspansi ini, kemudian Eropa berhasil membangun stadion stadion yang megah lagi mercusuar. Matras, lapangan dengan rumput yang bagus dan merata, dan pemandangan itu (jauh) terbalik  dengan stadion stadion di Asia atau Afrika, sebelas duabelas dengan Indonesia yang stadion masih ala rasa tarkam (liga antar kampung).

Hingga alat latihan yang serba memadai di Eropa sana, dan teknologi yg ada, hal ini tentu membuat negara negara Eropa, Amerika, Amerika latin, seperti Spanyol, Inggris, Brazil, Argentina dll lebih duluan lihai dalam soal skill memainkan sikulit bundar.

Sejatinya tak ada yang mau di hegemoni, pasca wafatnya Hitler yang menggaungkan dan mengagungkan Jerman, dan menganggap bangsa Arya sebagai suku- bangsa terbaik di dunia, berikut Israel.
 
Namun kekuatan keduanya patut diuji, di lapangan hijau,ketika  the orange kini Belanda dan Itali perlahan redup, dan bahkan tenggelam. Dan terlempar dari persaingan sepakbola dunia yang akan berlansung tahun depan.

Soal hegemoni barat dalam aspek multidemensional telah diulas dan dibahas oleh Antonio Gramscie, dan sejak itupula ia menolak hegemoni. Muhammad sebagai revolusioner agama lewat (Islam) juga sejak 15 abad lalu, telah memprediksi, kebangkitan negara negara Asia-Pasifik menggunakan diksi (Bissin: Hadis) merujuk China, sekitarnya suatu saat Asia jadi kiblat yang menguasai segala sesuatu hal.

Samuel Huttington tidak mau ketinggalan, dalam Clans of Civilizitation, dia membaca kebangkitan akhir era akan dimenangkan oleh negara negara Timur-Asia sepasifik.

Soekarno di masa orde baru juga telah meletakkan keberpihakan, lewat konferensi Asia Afrika yg dipeloporinya, hingga pembentukan negara non blok, kesemuanya ini membuktikan bahwasanya naluri, nurani, menolak hegemoni.

Dipiala dunia 2018 patut dinanti, apakah negara Asia Afrika bisa bersaing, dan menandai kebangkitan Negara-Negara timur di abad 21 ini. Kita lihat saja apakah tim tim semisal Maroko, Mesir, Arab Saudi, Korea, Jepang,  Iran dan tim Asia- Afrika lainnya bias unjuk taring.

Hari ini stadion stadion negara negara Asia Pasifik Afrika telah memadai, asumsi penulis akhirnya bahwa  kepiawaian Messi, Neymar, Rooney  dkk selama ini melebihi pemain pemain Asia Afrika, hanya karena ditopang fasilitas, stadion dan tempat latihan yang lebih memadai, dan di back up oleh negara dengan modal yang tentu tidak sedikit. Kita tunggu saja kejutan pada pergelaran world Cup 2018 di Moskow Rusia.

By Sulaeman

Mahasiswa semester akhir  FISIP UNHAS

Tags