Senin, 04 Desember 2017 16:28 WITA

Opini

Pilkada Sinjai; Pertarungan Mantan

Editor: Almaliki
Pilkada Sinjai; Pertarungan Mantan

Pilkada serentak tak akan lama lagi digelar. Tinggal mengitung bulan saja. kita akan menyaksikan pesta demokrasi dan pemilihan pemimpin lima tahun ke depan.

Sebagai salah satu negara demokrasi, preferensi politik nantinya akan diuji sebagai sebagai representasi pemilih berdasarkan faktor kualitas calon, faktor kekuatan finansial, pertaruhan nama fam ayah, yang dulu menjadi mantan bupati sebelumnya, entahlah.

Saya tertarik dengan sebuah peribahasa yang mengatakan “buah jatuh tak jauh dari pohonya”. Mungkin inilah penggambaran kontestasi bakal calon-calon pemimpin kabupaten Sinjai ke depanya, yang akan diisi oleh para pemimpin yang tak bisa lepas dari nama suksesor sebelumnya, entah pada sifat atau leadership-nya, dan akan tergantung pada sudut pandang pemilih melihatnya.

Bakal calon bupati Sinjai yang digadang-gadang dan sudah hampir pasti akan bertarung, yaitu pasangan Takyuddin Masse dan Mizar Roem; Andi Seto Ghadista Asapa dan Andi Kartini.

Baik Mizar Roem dan Andi Seto adalah putra mahkota mantan Bupati Sinjai yang masih memiliki kedekatan emosional dan sebaran massa yang masih jelas, walau tak lagi menjadi orang nomor satu di Sinjai.

Siapa yang tak kenal H. M. Roem dan Andi Rudiyanto Asapa? Keduanya bupati dua periode Sinjai, dan sebagai tokoh politik di Sulsel. Keduanya memiliki prestasi tersendiri, masing-masing baik di kancah politik maupun pemerintahan yang tak dapat dimungkiri, semenjak meninggalkan tampuk kekuasaannya dan kembali pada rutinitas awalnya: Sebagai politisi maupun pengacara.

Perbincangan hangat di kedai dan warung kopi (warkop) sering kali membincangkan keduanya sebagai tema pembicaraan, yaitu pemimpin muda yang memiliki masa depan yang cerah, namun ada juga hal-hal yang berbau pesimis meilhat keduanya entah itu dari pengalaman memimpin birokrasi.

Di tengah perbincangan itu, ada celetukan yang mengatakan, apakah ia hanya mengandalkan nama fam ayahnya sebagai mantan Bupati Sinjai sebagai jualan politik?

Rekam jejak keduanya memang masih tak bisa lekas dilupakan begitu saja, dan masih membekas di kepala masyarakat Sinjai, dengan berbagai kemajuan, prestasi, dan pembangunan yang bermanfaat bagi masyarakat banyak. Buah karya itu, pastinya akan selalu dibandingkan apple to apple dengan yang akan dilakukan putranya.

Pada intinya, kedua mantan Bupati Sinjai seharusnya lebih membebaskan anaknya percaya diri tampil sebagai individu yang memiliki kemampuan yang dia miliki; entah dia dapat dari lahir atau saat dia dapat dalam proses dalam organisasi; bukan menekannya sana sini, sehingga pikiran mereka campur aduk.

Pun boleh memberi wejangan sekali-kali, sebagai bentuk tugas orang tua kepada anaknya, dilihat dari segi pengalaman dan kematangan dalam segala hal. Sebab politik identitas selalu melahirkan konotasi negatif, tapi itu tak salah selama kualitas yang dimiliki sesuai harapan dan janji kampanye nanti, masyarakat sekarang mulai bisa memilah dan memilih sesuai sudut pandang dan afiliasi politik mereka sendiri.

Politik gagasan sekarang menjadi role model dalam mencerdaskan masyarakat dengan menawarkan berbagai solusi yang ditawarkan kepada masyarakat, atas`permasalahan yang terjadi di Kabupaten Sinjai.

Kini, sudah saatnya masyarakat sekarang harus lebih mawas diri terhadap segala bentuk jargon-jargon yang lebih menonjolkan sesuatu pada suatu aspek yang episentrumnya tak jauh-jauh dari siapa nama belakang calon, tapi perlunya pemilih lebih paham akan gagasan yang akan dijual nanti pada kampanye, dan langsung mengeksekusinya. Bukan memilihnya karena ada apanya dan banyak apanya, agar pendidikan politik kita lebih tercerdaskan dari hal-hal yang pragmatis.

Dikirim oleh: Andi Aris Mattunruang, Alumnus Fakultas Ekonomi UNM dan Pengurus HMI Komisariat Ekonomi UNM.