Sabtu, 25 November 2017 11:21 WITA

Muhasabah Peran Tenaga Pendidik

Editor: Al Khoriah Etiek Nugraha
Muhasabah Peran Tenaga Pendidik

Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Jika berada di depan muridnya, seorang guru harus menjadi contoh yang baik. Jika berada di tengah harus memberi ide cemerlang, dan jika berada di belakang harus memberi semangat juang. (Ki Hajar Dewantara).
 
Setiap tanggal 25 November 2017, Bangsa Indonesia memperingati Hari Guru Nasional. Meskipun tidak ditetapkan sebagai hari libur, namun Hari Guru Nasional dirayakan secara luas dan ditandai dengan pelaksanaan upacara bendera di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi, dari tingkat kecamatan hingga pusat, serta diisi dengan penyampaian pidato bertema pendidikan oleh pejabat terkait. 

Kualitas Pendidikan Indonesia di mata dunia sangat menarik. Apalagi jika melihat potret dunia pendidikan melalui posisi atau peringkat pendidikan Bangsa Indonesia di mata dunia. 

Dari hasil literasi Programme for International Students Assessment (PISA) 2015 yang dirilis 6 Desember 2016 lalu, Indonesia berada pada urutan ke-64 dari total 72 negara peserta survei PISA. Peringkat ini mengalami peningkatan sebanyak 7 tingkat dibanding tahun 2012 lalu, yang berada pada urutan ke-71 dari total 72 negara peserta survei PISA. 

Meski, menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), kabar ini sangat menggembirakan, tapi menurut kami ini cukup memalukan bagi dunia pendidikan kita. 

Bagaimana tidak, di peringkat ke-64 Indonesia "hanya" lebih baik daripada Brazil, Peru, Lebanon, Tunisia, Mecodonia, Kosovo, Algenia, dan Cominican Republic. Sementara negara tetangga seperti Singapura, Jepang, Cina, berada dalam peringkat lima besar dunia. Terutama Singapura, mereka berhasil meraih prestasi yang luar biasa dengan menduduki peringkat PISA nomer satu. 

PISA merupakan sistem ujian yang diinisasi oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD), untuk mengevaluasi sistem pendidikan dari 72 negara di seluruh dunia. PISA dilakukan tiap tiga tahun sekali, yang dimulai sejak tahun 2000. 

Setiap tiga tahun, siswa berusia 15 tahun atau kalau di Indonesia sekitar kelas IX atau X akan dipilih secara acak, untuk mengikuti tes dari tiga kompetensi dasar yaitu membaca, matematika dan sains. 

Selanjutnya, PISA mengukur apa yang diketahui siswa dan apa yang dapat dia lakukan (aplikasi) dengan pengetahuannya. Hasil tes dan survey PISA tahun 2015 melibatkan 540.000 siswa di 72 negara, dianalisa dengan hati-hati dan lengkap sehingga survey dan tes tahun berjalan baru bisa didapatkan pada akhir tahun berikutnya, yakni akhir tahun 2016 kemarin. 

Hasil riset internasional tiga tahunan seperti PISA, paling tidak memberikan gambaran dari kualitas, dan masa depan dunia pendidikan kita. Bagaimana kita melakukan tindak lanjut berdasar diagnosa yang dihasilkan dari survei tersebut. 

Pada momentum hari guru nasional kali ini, kami mengajak kepada para tenaga pendidik untuk melakukan muhasabah/instropeksi guna perbaikan dunia pendidikan kita kedepannya. Menurut UU No 20 Tahun 2003, Pasal 39:2, Pendidik adalah tenaga profesional (guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain) yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. 

Muhasabah menjadi sangat penting sebelum kita menyalahkan siapa-siapa. Seperti perkataan sahabat Umar bin Khathab ra, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab dan timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang karena lebih mudah bagi kalian menghisab diri kalian hari ini daripada besok (hari kiamat)".

Bapak pendidikan nasional Ki Hadjar Dewantara, sebelumnya juga telah menitipkan tiga pesan yang dapat dijadikan bahan muhasabah untuk para tenaga pendidik. Sesuai yang tertera pada pembuka tulisan ini, yaitu ; 

Pertama, Ing ngarso sung tulodo, jika berada didepan maka jadilah contoh yang baik bagi murid kalian. 

Sudahkah para tenaga pendidik menjadi contoh yang baik selama ini?. Seorang pendidik harus menjadi teladan yang baik untuk anak didiknya. Baik dalam tingkah laku, kepribadian, berkata-kata, dan lain sebagainya. 
Bukan sekedar teori di depan kelas. Sebagai mana pepatah mengatakan “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Mencerminkan bahwa seorang guru harus menjadi teladan yang baik. Jika guru itu  memberikan teladan yang baik kepada anak didiknya maka secara tidak langsung anak didik akan menirukan apa yang dilakukan oleh gurunya, begitu juga sebaliknya, jika guru itu memberikan contoh yang buruk maka anak didiknya pun akan berbuat buruk juga, bahkan lebih buruk. Di dalam agama pun mengancam bagi mereka yang memerintahkan kebaikan namun tidak mengerjakannya. 

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2-3) 

Allah juga mencela perilaku Bani Israil dengan firman-Nya “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al 
kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44). 

Pesan yang kedua ialah "Ing madyo mangun karso", jika berada di tengah maka jadilah pemberi ide cemerlang bagi murid kalian. Seorang pendidik harus memberikan gambaran dalam mengembangkan bakat murid-muridnya. Menuntun anak didiknya dan memberi tahu kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi dalam menuntut ilmu, bahkan mengarahkannya untuk tidak mempelajari sesuatu jika sang pendidik mengetahui bahwa potensi anak didiknya tidak sesuai dengan bidang ilmu yang akan dipelajarinya. 

Singapura menerapkan konsep tersebut, sehingga sejak dini murid-murid telah diarahkan kemana disiplin ilmu yang disukainya kelak, bukan memaksakan semua kurikulum untuk dipelajari. 

Sedangkan pesan ketiga yakni "Tut wuri handayani", jika berada di belakang maka jadilah pemberi semangat juang bagi murid kalian. Tenaga pendidik harus jadi benteng terakhir bagi muridnya yang tidak pernah kehabisan kata motivasi. Harus jadi sandaran yang kokoh sebagai charge kembali ketika batrei semangat muridnya mulai low. Seperti kata, Alexander Graham Bell kala memotivasi muridnya, bahwa ketika satu pintu kebahagiaan tertutup sebenarnya di saat yang sama banyak pintu lain yang juga sementara terbuka, sehingga kita tidak boleh berlama-lama meratapi pintu yang tertutup tersebut.

Pada akhirnya, semoga di momen hari guru nasional kali ini, muhasabah oleh para tenaga pendidik dapat dilakukan, sebagai salah satu cara untuk perbaikan dunia pendidikan Indonesia kedepannya. Terlebih dalam menyongsong PISA tahun 2018 nantinya, kita semua berharap peringkat Indonesia jauh lebih baik lagi. Aamiin. 

Selamat Hari Guru Nasional para tenaga pendidik. Mulialah dengan tugas tersebut.

Penulis : dr Rachmat Faisal Syamsu, M.Kes 
Kord KTI dan Staff Bagian IKM Fakultas Kedokteran UMI

Tags