Kamis, 16 November 2017 11:56 WITA

Setya Novanto Sempat Ajukan Praperadilan Sebelum 'Menghilang'

Editor: Mulyadi Abdillah
Setya Novanto Sempat Ajukan Praperadilan Sebelum 'Menghilang'
Setya Novanto

RAKYATKU.COM - Setya Novanto kembali mengajukan gugatan praperadilan ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan. Gugatan itu terdaftar pada Rabu, 15 November 2017.

Dikutip dari situs PN Jakarta Selatan, gugatan praperadilan sudah teregistrasi dengan nomor 133/Pid.Pra/2017/PN JKT.SEL. Namun, belum ada nama hakim tunggal maupun jadwal sidang perdana.

Ada beberapa poin yang menjadi permohonan praperadilan Setya Novanto. Salah satunya adalah meminta hakim memutuskan agar penetapan tersangka yang dilakukan KPK adalah tidak sah serta memerintahkan KPK menghentikan penyidikan.

Petitum praperadilan Setya Novanto:

1. Mengabulkan Permohonan Praperadilan PEMOHON untuk seluruhnya;
2. Menyatakan batal/batal demi hukum dan tidak sah penetapan Tersangka terhadap Setya Novanto (Pemohon) yang dikeluarkan oleh Termohon (KPK) berdasarkan Surat No. B-619/23/11/2017 tanggal 03 November 2017, Perihal : Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan
3. Memerintahkan Termohon untuk menghentikan penyidikan terhadap Setya Novanto (Pemohon) berdasarkan Surat Perintah Penyidikan No. Sprin.Dik-113/01/10/2017 tanggal 31 Oktober 2017;
4. Menyatakan batal dan tidak sah segala Penetapan yang telah dikeluarkan oleh Termohon terhadap Setya Novanto.

Pengajuan gugatan ini diperkirakan pada Selasa, 14 November karena lama proses pendaftaran berlangsung selama 1 hari. KPK telah menetapkan kembali Setya Novanto sebagai tersangka pada 10 November 2017 dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi pengadaan paket penerapan kartu tanda penduduk berbasis nomor induk kependudukan secara nasional (KTP Elektronik) tahun 2011 – 2012. 

Setya Novanto Sempat Ajukan Praperadilan Sebelum 'Menghilang'

KPK mengklaim sudah memanggil Setya Novanto sebanyak 11 kali sebelum mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi (Tipikor) KTP-Elektronik tersebut. Surat penangkapan itu lantaran Ketua DPR itu selalu beralasan tak bisa hadir. 

Pada Rabu malam, penyidik KPK mendatangi rumah Setya Novanto di Jalan Wijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Namun, Setya sudah tidak berada di rumahnya. 

"Sampai dengan tengah malam ini tim masih di lapangan. Pencarian masih dilakukan. Kalau belum ditemukan, kami pertimbangkan lebih lanjut dan koordinasi dengan polri untuk menerbitkan surat DPO," jelas jubir KPK, Febri Diansyah.

Meski begitu, Febri mengaku pihaknya belum bisa menyimpulkan Setya Novanto melarikan diri. Namun, jika memang Setnov tak kunjung ditemukan, maka KPK akan mengeluarkan surat DPO.

"Belum ada kesimpulan itu (melarikan diri). Masih perlu koordinasikan dengan Polri, apakah nanti tindak lanjuti dengan pencantuman di DPO atau tidak," bebernya.