Senin, 13 November 2017 16:25 WITA

OPINI

Sang Professor di Panggung Tahta

Editor: Andi Chaerul Fadli
Sang Professor di Panggung Tahta
Direktur OGIE Institute Research and Political Development, Saifuddin Al Mughniy (sumber: fb)

Dua penggalan kalimat tersebut diatas ditemui kata “Professor”, Profesor (dari bahasa Latin yang bermakna "seseorang yang dikenal oleh publik berprofesi sebagai pakar"; bahasa Inggris: Professor), disingkat dengan prof, adalah seorang guru senior, dosen dan/atau peneliti yang biasanya dipekerjakan oleh lembaga-lembaga/institusi pendidikan perguruan tinggi atau universitas.

Di Indonesia, gelar Profesor merupakan jabatan fungsional, bukan gelar akademis. Ini tertuang dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 1 Butir 3, menyebutkan bahwa guru besar atau profesor adalah jabatan fungsional tertinggi bagi dosen yang masih mengajar di lingkungan satuan pendidikan tinggi. 

Dalam pandangan yang lain professor yang di tarik dari peristilahan “Profhet” yang berarti nabi. Maka sehingga makna secara terminiologis, sang professor dekat dengan ‘Theory” yang berasal dari suku kata “teo” yang berarti Tuhan, sedangkan “Ria” yang berarti perenungan. Dengan demikian seorang Proffessor akan melekat pada dirinya tentang makna-makna perenungan baik itu secara kontekstual, tekstual, terlebih lagi yang bersifat transendental. 

Sebagai pakar, profesor umumnya memiliki empat kewajiban tambahan: pertama, Memberi kuliah dan memimpin seminar dalam bidang ilmu yang mereka kuasai baik dalam bidang ilmu murni, sastra, ataupun bidang-bidang yang diterapkan langsung seperti seni rancang (desain), musik, pengobatan, hukum, ataupun bisnis; kedua, Melakukan penelitian dalam bidang ilmunya;Pengabdian pada masyarakat, termasuk konsultatif (baik dalam bidang pemerintahan ataupun bidang-bidang lainnya secara non-profit); ketiga, Melatih para akademisi muda/mahasiswa agar mampu membantu menjadi asisten atau bahkan menggantikannya kelak.

Keseimbangan dari empat fungsi ini sangat bergantung pada institusi, tempat (negara), dan waktu. Contoh, profesor yang mendedikasikan dirinya secara penuh pada penelitian dan ilmu pengetahuan di universitas-universitas di Amerika Serikat (dan universitas-universitas di negara Eropa) dipromosikan untuk mendapat penghargaan utamanya pada bidang ilmu dari subyek penelitiannya. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan transformasi kebudayaan yang bergerak cepat, Nampak sulit dibendung mengingat kebutuhan manusia semakin kompleks.

Karenanya, profesi apapun seseorang juga semakin  menceburkan diri dalam panggung-pannggung kehidupan termasuk dalam aspek kepentingan ekonomi, social, politik dan pertahanan keamanan. Sebab itu, maka tidak sedikit problematic social minimal ditangani secara serius oleh para pemegang kekuasaan yang ada. Saya begitu mengerti ketika sang Psikoanalitis, Sigmund Freud yang menulis buku “Naluri Kekuasaan”, begitu apaik ia mengungkapkan bahwa kekuasaan sangat di pengaruhi karena beberapa kecemasan.

Kecemasan realitas (kenyataan), adalah satu kecemasan yang diakibatkan perasaan atas dunia luar yang mengancam dirinya. Perasaan itu terkadang memenjarakan dirinya sebab selalu bersikap apriori dengan lingkungan di mana ia berada. Bahkan hampir semua orang dipandangnya sebagai kenyataan yang membahayakan. Kecemasan neurotys (syaraf), kecemasan ini ditimbulkan akibat pengamatan tentang bahaya naluri-naluri. 

Kecemasan ini adalah suatu rasa ketakutan tentang apa yang mungkin terjadi. Sekiranya anti-cathexis dari ego gagal untuk mencegah cathexis obyek dari naluri-naluri meredakan dirinya dalam suatu tindakan yang impulsive. Namun dalam kecemasan neurotys ini juga terkadang muncul kecemasan yang berlebihan, yakni ketakutan melebihi dari apa yang ditakutkan ini juga yang di sebut phobia. Yang terakhir dengan kecemasan moral, kecemasan ini ditimbulkan dengan satu perasaan selalu bersalah melihat keadaan dalam lingkungannya, termasuk dalam kekuasaan. Kecemasan ini lahir ketika seseorang tak mampu menundukkan ego dalam dirinya. 

Oleh sebab, dari narasi tiga kecemasan itu sesungguhnya mengakibatkan ke kwatiran setiap orang melihat orang lain itu dalam kacamata baik atau tidak. Politik dan kekuasaan, tidaklah seluruhnya salah ketika ia di pandang dalam sebuah nilai. Tetapi bisa saja keliru kalau ia dipandang dari sisi perilaku. Karena perilaku yang mencemaskan sangat berakibat pada fungsi agency di negeri ini berpindah-pindah karena merajalelanya gairah politik. Yang ilmuwan mau menjadi politikus, yang politikus mau menjadi ilmuan, yang agamawan mau menjadi politikus, dan politikus mau menjadi agamawan dan seterusnya, kamar-kamar agency saling menyeberang (meminjam istilah, kak Alwy Rahman) dalam satu sesi diskusi.

Yah, tentu hadirnya sang professor di panggung politik bukan berarti menafikkan dimensi keilmuan yang ia miliki, tetapi sang professor ingin mengabdikan ilmu dan dirinya ditengah masyarakat luas, sekaligus menjawab kecemasan yang ada. Termasuk kecemasan rivalitas politik yang ada, mungkin saja bukan ?. tanpa harus membela tampilnya Prof Dr, Nurdin Abdullah di panggung politik sulsel bukan tanpa alasan, sebab sang professor ini telah membuktikan dirinya sebagai Bupati Bantaeng yang meraih segudang prestasi nasional maupun internasional. 

Bukan karena ‘Ambigu” tetapi lebih pada naluri moralitas yang membuat sang professor memilih jalan politik sebagai ruang pengabdian. Ada benarnya kata filsuf Plato, yang menyebutkan bahwa pemimpin, filsuf dan akal budi adalah bagian integralitas mewujudkan satu kedamaian dalam masyarakat. 

Oleh sebab itu, tak perlu cemas dengan kehadiran ilmuan dalam politik, sebab politik juga itu adalah ilmu. Kecemasan kita sesungguhnya bukanlah di ilmuan politik tetapi ketika politik tanpa ilmuan, mungkin ini satu diksi yang begitu mengerikan, tetapi semuanya bisa cair dan dinamis sepanjang politik dan kekuasaan itu kita maknai sebagai kerja-kerja kemanusiaan.

Pembuktian sang professor di gelanggang politik ketika beberapa partai politik secara resmi memberi dukungan itu berarti ruang public melalui partai politik telah mempercayainya untuk memperjuangkan kepentingan rakyat Sulsel.

Direktur OGIE Institute Research and Political Development, Saifuddin Al Mughniy
 

Tags