Sabtu, 21 Oktober 2017 01:30 WITA

Polisi Serbu Kampus, Kapolda Sulsel Diminta Mundur

Editor: Almaliki

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Aksi unjuk rasa damai yang dilakukan oleh HMI Cabang Gowa Raya (Cagora) yang dilaksanakan di depan kampus I UIN Alauddin, Jumat (20/10/2017) sore, berujung bentrok dengan petugas.

Dari keterangan Andi ‎Jimmi Ruslan, Ketua Umum Cagora,‎ aksi damai dilakukan dengan menutup sebagian badan jalan. Namun kepolisian yang menjaga, langsung represif, sehingga berujung bentrokan antara polisi dan kader HMI Cagora. 

"Kami aksi damai, baru tutup jalan setengah, petugas langsung represif‎," ungkap Jimmi.

Jimmi menyebut aksi yang dilakukan kader HMI Cagora tersebut merupakan bentuk keprihatinan terhadap ketimpangan yang terjadi di negeri ini. Aksi tersebut juga dilakukan untuk menyikapi rekan mereka yang terkena tembakan gas air mata saat aksi yang sama pada beberapa hari lalu.

Meski demikian, kader HMI Cagora yang terluka tersebut, tidak dilanjutkan dengan proses hukum karena tetap akan ditangani oleh polisi.

"Kami menuntut penuntasan kasus KTP‎-el, tapi pada aksi sebelumnya, ada kader kami yang kena gas air mata. Bagaimana kalau misalnya yang kena itu peluru tajam? Kami tidak melakukan visum, karena sama saja akan dibawa juga ke polisi, makanya kami sikapi dengan aksi tanggal 20," tambahnya.

Atas aksi represif petugas kepolisian terhadap kader HMI Cagora saat menyampaikan aspirasi. Jimmi menyebut Kapolda Sulselbar sebagai atasan tertinggi kepolisian di Sulsel, harus bertanggung jawab atas tindakan bawahannya yang dinilai melebihi batas.

Olehnya itu, pihaknya menyebut akan melanjutkan aksi yang lebih besar pada tanggal 28 Oktober, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.

Sementara Kabid Perguruan Tinggi Kemahasiswaan dan Pemuda (PTKP) Cagora, Ardiansyah menyebut, Kapolda harus bertanggungjawab dengan mundur dari jabatannya. Hal tersebut lantaran dinilai tak mampu mengendalikan bawahannya untuk mengawal penyampaian aspirasi.

"Kami mendesak Kapolda untuk mundur dari jabatannya atas konsekuensi yang dilakukan oleh bawahannya," ungkap ‎Ardiansyah.

Pada aksi yang dilakukan Jumat sore tersebut, salah satu kader HMI Cagora, Andi, ditahan oleh polisi. Ardiasyah juga menyebut, akibat aksi penembakan gas air mata ke dalam kampus I UIN Alauddin‎ oleh aparat kepolisian, mengakibatkan beberapa kaca jendela kampus pecah.

"Ada satu kader kami yang diambil dan sampai saat ini masih ditahan. Di dalam kampus juga ada kaca yang rusak," tambahnya.

Atas aksi yang berujung bentrok tersebut, Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani menyebut, penyampaian aspirasi semestinya dilakukan dengan bijak, agar tidak terjadi gesekan antara petugas keamanan dan pihak-pihak yang menyampaikan aspirasi.

"Kita semua harusnya menjaga Makassar agar tetap aman dan kondusif. Demo silakan, asal dilakukan dengan santun. Demo anarkis tidak menyelesaikan masalah," ungkap Dicky.

Akibat bentrokan kader HMI Cagora dan petugas kepolisian tersebut, tiga orang anggota polisi dilarikan ke rumah sakit akibat mengalami luka diduga lemparan batu. Adapun ketiga anggota polisi tersebut diantaranya Bripda Harianto dan Bripda Rahman dari Sabhara Poltabes Makassar dan Brigadir Dardi, Komandan Provos Brimob Polda Sulsel.