Jumat, 20 Oktober 2017 20:12 WITA

Pemuda, Makassar, dan 'Literate City'

Editor: Almaliki
Pemuda, Makassar, dan 'Literate City'

Oleh : Najamuddin Arfah, Founder Makassarbicara.com

Bagi sebagian orang, bulan Oktober katanya adalah bulannya anak muda. Bukan tanpa sebab, setiap tahunnya di pengujung Oktober, tepatnya tanggal 28 Oktober, selalu diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda.

Peran penting dan perjuangan pemuda bagi bangsa ini, oleh sejarah dicatat sebagai pelopor dan penggerak lahirnya kemerdekaan. Klimaksnya adalah penculikan yang dilakukan oleh pemuda terhadapap proklamator Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok, tentu menjadi catatan yang istimewa bagi peran pemuda yang turut andil memerdekakan bangsa ini.

Catatan lainnya tentang sepak terjang pemuda dalam sejarah perjuangan bangsa tentu terlalu banyak untuk diceritakan. Yang pasti, kehadiran pemuda  punya panggung tersendiri dalam catatan sejarah perjuangan bangsa.

Pemuda, sebagai 'iron stock' masa depan bangsa, sejatinya diberikan panggung tersendiri dalam membangun masa depan bangsa yang lebih baik. Keberpihakan dan perhatian pemerintah melalui program kota layak pemuda yang dicanangkan oleh Kemenpora pada akhir 2016 lalu dengan meluncurkan  program pencanangan kota layak pemuda 2017, tentu menjadi program yang patut diapresiasi.

Dengan diluncurkannya program tersebut, menjadi motivasi bagi pemerintah kota di setiap daerah untuk memberikan perhatian porsi khusus bagi kalangan pemuda. Oleh Kemenpora, penghargaan kota layak pemuda akan diberikan kepada kota yang telah mencapai sejumlah indikator yang ditetapkan oleh Kemenpora, antara lain dukungan Perda tentang kepemudaan (regulasi), ruang dan tempat berekspresi dan kreasi pemuda (infrastruktur), keaktifan organisasi kepemudaan, dan komunitas pemuda.

Makassar (Layakkah) kota Pemuda?

Dalam konteks Makassar, pemuda atau kaum muda di Kota Makassar punya karakter tersendiri dibanding dengan kota-kota lainnya. Tentu kita banyak menemukan pernyataan, jika kaum muda, khususnya mahasiswa Makassar, punya karakter daya kritis-reaksioner, pemberani dan pantang menyerah, belum lagi saat mahasiswa Makassar dalam
menyampaikan aspirasinya terkadang dicap 'anarkis'.

Tetapi yang pasti, itu hanyalah kesan dari sikap yang meledak-ledak serta dibarengi dengan bahasa tubuh yang tegas ala kaum muda Makassar. Karakter pemuda Makassar yang 'meledak-ledak' tersebut, tentu di lain sisi menjadi modal utama bagi Kota Makassar jika mampu dijaga dengan baik.

Masuknya Kota Makassar sebagai salah satu kota yang lolos penilaian administrasi kota layak pemuda untuk kali pertamanya diadakan oleh Kemenpora, tentu menjadi indikator jika keberpihakan Pemkot Makassar kepada pemuda sudah patut diacungi jempol, meski tentunya keberpihakan tersebut masih menjadi diskursus bagi kalangan pemuda di Makassar.

Kota layak pemuda akan diberikan pemerintah pusat jika suatu daerah mencapai beberapa indikator yang ditetapkan, di antaranya peraturan daerah tentang kepemudaan dan adanya ruang atau tempat ekspresi pemuda. Indikator lainnya, keaktifan organisasi-organisasi kepemudaan dan komunitas komunitas pemuda, dan kemandirian pemuda atau pemuda pelopor dalam hal UMKM.

Setidaknya, dari indikator-indikator tersebut, secara umum setiap daerah wajib memenuhinya, yang nantinya oleh pemerintah diharapkan pembinaan dan pemberdayaan pemuda lebih positif, sesuai dengan harapan yang tertuang dalam UU Kepemudaan No 40 Tahun 2009.

Berbagai persoalan kepemudaan di Makassar masih menjadi tantangan bagi Pemerintah Kota Makassar, masih maraknya peredaran narkoba, tingkat pengangguran, hingga perkembangan dan laju informasi di luar kendali khususnya kehadiran 'medsos' yang berakibat pada  kemunculan hoax, fake, dan hate speach, yang disebabkan terjadinya individualisme informasi, menjadi hal yang mesti diperhatikan oleh pemerintah Kota Makassar.

Pemuda Berliterasi

Salah satu tantangan pemerintah Kota Makassar adalah bagaimana mendorong pemuda untuk meningkatkan literasi agar ke depan menjadi pemuda yang tidak sekadar kritis terhadap informasi, tetapi juga mampu menyebar informasi yang positif bagi lingkungan dan sekitarnya.

Bagi pemuda Makassar, literasi juga menjadi penting untuk mengurangi kecanduan mereka pada sosial media yang tak hanya memiliki dampak positif, tetapi juga negatif karena dipenuhi berita-berita bohong atau hoax.

Secara nasional, data menunjukkan tingkat literasi di Indonesia masih sangat rendah. Hasil survei menunjukkan, literasi Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara yang disurvei. Anak muda kini, lebih senang bermedsos ria dan abai terhadap informasi-informasi yang positif.

Meskipun penetrasi internet sangat tinggi, yaitu 262 juta pengguna internet di Indonesia, namun lebih banyak menggunakannya untuk membaca media sosial. Data mengungkapkan, jumlah pemakai smartphone di Indonesia 1,25 kali jumlah penduduk dengan pengguna Facebook (FB) nomor empat di dunia.

Realitas ini, mesti menjadi perhatian Pemerintah Kota Makassar, khususnya bagaimana juga kemudian mendorong dan mendukung kegiatan-kegiatan anak muda Makassar untuk mengembangkan tradisi literasi. Sebagai kota berorientasi Makassar kota dunia, sudah selayaknya menaruh perhatian lebih terhadap budaya literasi anak muda, agar nantinya tidak kebablasan.

Mewujudkan Makassar kota Literasi atau 'literate city' adalah hal yang mesti diwujudkan. Apalagi, geliat anak muda Makassar terhadap dunia literasi memang seolah menjadi tren kekinian di Makassar. Tradisi literasi yang dibangun oleh berbagai kelompok anak muda dan komunitas, bahkan virusnya kini menjangkiti kota-kota lain sehingga melahirkan banyaknya penulis-penulis muda dari kawasan Indonesia Timur.

Geliat ini mesti menjadi perhatian Pemerintah Kota Makassar, dukungan serta porsi perhatian yang besar, termasuk keberpihakan anggaran, menjadi hal yang mesti dipikirkan.

Sebagai penutup, penulis ingin menyampaikan bahwa, untuk mewujudkan kota Makassar yang cerdas, maka cerdaskanlah anak muda, karena anak muda adalah modal terbaik bagi kota ini, sehingga ke depan, Kota Makassar mampu menjadi kota dunia yang berkebudayaan, kota dunia yang ramah literasi, karena dimanapun itu, di dunia ini, kota yang maju adalah kota yang menghargai dan menempatkan geliat literasi sebagai yang utama dalam aktivitasnya.

Tags