Minggu, 15 Oktober 2017 14:42 WITA

Penyebab Inflasi IHK di Parepare

Penulis: Hasrul Nawir
Editor: Almaliki
Penyebab Inflasi IHK di Parepare

RAKYATKU.COM, PAREPARE - Perputaran uang di kalangan masyarakat khususnya golongan menengah ke bawah, menurun akibat adanya inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) di wilayah Kota Parepare. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa momen, semisal Hari raya atau penerimaan siswa baru.
 
Pengamat Ekonomi Kota Parepare, Yadi Arodhiskara menilai, inflasi IHK ini berdampak pada perputaran ekonomi saat daya beli masyarakat menurun, yang mengakibatkan perputaran di area ekonomi kecil berkurang.

“Penghasilan masyarakat tetap, sedangkan pada momen tersebut kebutuhan masyarakat bertambah dan tentu harga juga akan naik,” kata Dosen Ekkonomi Universitas Muhammadiyah Parepare (Umpar) ini, Minggu (15/10/2017).

Yodi juga menilai, sejumlah pengerjaan proyek di Parepare yang tidak memanfaatkan tenaga lokal, menjadi salah satu pemicu. Pekerjaan proyek yang menggunakan APBD, namun yang mendapat gaji orang dari luar daerah, dan tentunya mereka belanja di daerahnya.

“Sehingga penghasilan masyarakat itu akan mandek, utamanya yang mengandalkan profesi sebagai pekerja proyek, atau tukang batu. Itu sangat disayangkan, jika uangnya Parepare dinikmati oleh orang luar. Mengambil uang kita baru belanja di luar. Kan kasihan masyarakat kita,” urainya.

Mestinya, hemat Yodi, pemerintah berdayakan tenaga lokal (Parepare), sehingga mereka mendapat penghasilan, dan penghasilan mereka tetap dibelanjakan di daerah (Parepare), sehingga pelaku ekonomi kecil (pedagang kaki lima) pun mendapat pembeli.

“Dengan demikian, terjadi perputaran ekonomi, walaupun kecil tapi sangat berarti,” ujarnya.
 
Sebelumnya Kepala BPS Parepare, Guruh Wahyu Martopo, menjelaskan inflasi di Kota Parepare untuk awal 2017 sebesar 0,93 persen. Menurutnya, kenaikan harga terjadi pada kelompok komoditas bahan makanan sebesar 1,97 persen. Seperti minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,08 persen.

Loading...

Berikutnya, kelompok komoditas perumahan, seperti air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,56 persen. Kelompok komoditas sandang sebesar 0,22 persen, dan kelompok komoditas kesehatan sebesar 0,22 persen. Kelompok komoditas pendidikan, rekreasi dan olah raga 0,02 persen, dan kelompok komoditas transport, komunikasi, dan jasa keuangan 1,69 persen.

Sementara rilis data pada Oktober ini, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Sulsel mengalami deflasi pada September 2017. Deflasi tersebut merupakan kali keempat sepanjang tahun ini.

Dari lima kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sulsel, hanya satu kota yakni Parepare yang mengalami inflasi. Adapun empat kota lainnya, termasuk Makassar mencatatkan deflasi.

“Periode September 2017, Sulsel mengalami deflasi 0,07 persen dengan IHK sebesar 129,98. Untuk lima kota, IHK yang menjadi indikator pun hanya satu yang mengalami inflasi yaitu Parepare. Empat kota lainnya yakni Makassar, Palopo, Bone dan Bulukumba mencatatkan deflasi,” kata Kepala BPS Sulsel, Nursam Salam.

Berdasarkan data BPS, inflasi Parepare terbilang kecil hanya 0,1 persen dengan IHK sebesar 136,39. Sedangkan untuk deflasi, tertinggi terjadi di Bone mencapai 0,14 dengan IHK sebesar 126,73, dan terendah dialami Palopo hanya 0,04 persen dengan IHK sebesar 127,48. Makassar sendiri mengalami deflasi 0,08 persen dengan IHK sebesar 130,61.

Loading...
Loading...