13 October 2017 13:38 WITA

OPINI

Politik 'Kejut' Ala DP

Editor: Trio Rimbawan
Politik 'Kejut' Ala DP
FOTO:Direktur Eksekutive Pusat Studi dan Transformasi (PUSARAN) Indonesia, Jakata

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Seiring dengan agenda Pilkada Serentak 2018, Pilwalkot Makassar pun kian riuh diperbincangkan oleh publik Kota Daeng. Figur-figur terkenal mengemuka dan dibicarakan akan tampil mencalonkan atau dicalonkan untuk menjadi wali kota di Ibukota Provinsi Sulsel tersebut.

Selain petahana Danny Pomanto (DP) dan Syamsu Rizal (Deng Ical), disebut pula nama seperti Irman Yasin Limpo (None), Rahmatika Dewi (Cicu), Munafri (Appi) dan paling anyar Indira Mulyasari Paramastuti (Indira). Nampaknya, figur-figur tersebut di atas yang dominan mewarnai wacana kandidasi pilwakot makassar saat ini. Tentunya, petahana relatif memiliki faktor determinan untuk mengisi ruang publik karena intensitas interaksi mereka dengan masyarakatnya selalu wali kota atau wakil wali kota.

Menarik untuk membincang lebih jauh perihal kandidasi pilwakot makassar ini, disebabkan dinamikanya yang lebih artikulatif dengan mengemukanya figur-figur 'baru' dan 'fresh' dalam belantika politik lokal. Selain DP dan Deng Ical sebagai petahana, nama seperti Appi (CEO PSM) yang juga kerabat dekat Aksa Mahmud, Cicu (Wakil Ketua DPRD Sulsel) keluarga mantan Wali Kota Makassar IAS dan Indira (Wakil Ketua DPRD Makassar). 

Sosok seperti Appi, Cicu dan Indira merupakan generasi politik baru yang kiprahnya di dunia politik masih memerlukan pembuktian pada masa-masa mendatang. Waktu akan menjawab tentunya, apakah mereka tidak 'ansich' bersandar atau bertumpu pada patron nama besar keluarganya?

Shock Effect!

Meskipun belum mainstream dalam literatur politik modern perihal variabel 'efek kejut' dalam dinamika politik riil. Namun, faktanya bisa mewujud dan terekam pada beberapa pengalaman kontestasi politik di tanah air, semisal, pengalaman Pilgub DKI, terbentuk paradoks dari realitas yang berlangsung kala itu dengan kemunculan figur baru yang dalam perspektif publik tidak disangka akan mengambil peran secara langsung dengan menjadi calon Gubernur, yakni munculnya figur Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) perwira menengah TNI berpangkat Mayor, publik pastinya dibuat 'terkejut' sebab nama itu muncul menjelang deadline pendaftaran di KPU, figur yang berbeda sama sekali dengan arus utama pemberitaan media massa yang secara intens menyebutkan nama seperti Yusril Ihza Mahendra, Eko Patrio, Sjafri Syamsuddin, Mardani Ali Sera.

Kemunculan tiba-tiba figur AHY menimbulkan yang disebut Shock Effeck atau Wow Effeck. Effeck ini mendorong eskalasi pikiran dan  emosi publik, untuk mencari supaya mengenali lebih detail siapa sesungguhnya sosok AY, bagaimana background atau portofolio yang bersangkutan, ruang psikologi publik semacam inilah yang turut mengakselerasi tingkat popularitas dan elektabilitas AY diawal deklarasi pencalonannya.

Sayangnya, shock  effeck ini tidak dimanage dengan baik dan tidak berlangsung lama karena variabel 'kematangan' AHY dalam interaksi dan komunikasi politik yang nampak masih sangat kaku serta keterlibatan SBY selaku orang tuanya yang terlampau 'dalam' pada proses yang berlangsung kala itu. Di samping itu, faktor 'kesempurnaan' Anies-Sandi menjadi hal yang signifikan mempengaruhi melambatnya bahkan bergesernya pemilih AHY-Silvi ke pasangan Anies-Sandi.

Kejelian dan Kecerdasan DP

Background keilmuan DP sebagai arsitek sekaligus pengalaman memimpin hampir lima tahun kota sebesar dan sekompleks Makassar dengan varian problematikanya secara langsung menempah kematangan dan kejeliannya dalam memotret dinamika sosio-politik yang terjadi di kotanya, membantu menguatkan feeling dan sensitifitasnya dalam merumuskan langkah dan kebijakan besar serta krusial yang akan dipilihnya.

Kejelian, kematangan dan kecerdasan DP terbaca pada keputusannya untuk memilih pasangan yang akan berpaket dengannya sebagai calon wakil walikota yakni Indira Mulyasari Paramastuti, politisi muda perempuan dari partai Nasdem yang juga adalah Wakil Ketua DPRD Kota Makassar. Menurut hemat saya, pilihan ini merupakan keputusan cerdas, strategis dan secara politik memiliki efek 'pukul' terhadap kompetitor politiknya.

Beberapa narasi yang bisa dieksplorasi terkait dengan pilihan DP tersebut; Pertama, Kalaulah figur Indira fix menjadi pendamping DP, tentu ini memberikan shock effeck atau wow effeck dalam atmosfir Pilwakot Makassar. Betapa tidak, keterpilihan Indira memberikan kesan 'mendadak' dan di luar dari radar publik, nama Indira 'terbenam' oleh dominasi Cicu yang kebetulan mereka separtai  dan dinilai menjadi representasi Nasdem, terlebih rekomendasi Nasdem sudah mengerucut ke nama Cicu. Psikologi shock effeck ini mesti di0manage ritmenya karena akan mendorong penguatan popularitas dan elektabilitas paket DP-Indira.

Kedua, munculnya nama Indira memangkas spekulasi yang berkembang selama ini soal siapa pendamping DP, sekaligus 'mengacaukan' konstalasi dan kanalisasi politik yang sedang dibangun oleh pihak kompetitor. Koalisi Golkar-Nasdem  yang kandidatnya mengerucut kepada Appi-Cicu. Maknanya, paling tidak dengan menggandeng kader Nasdem, konsentrasi pemilih Nasdem di Makassar akan terbelah dan benefit lainnya, isu dan strategi berbasis gender tak sepenuhnya bisa dimainkan oleh pihak Appi-Cicu karena DP-Indira juga menegaskan keseimbangan gender.

Strategi kampanye dengan orientasi merebut pemilih pemula dengan pendekatan millineal akan berjalan seimbang dengan mengandalkan figur Cicu maupun Indira karena keduanya sama-sama fotogenik dan perempuan aktifis. Ketiga, pertimbangan elektoral, DP jeli memilih Indira karena sebagai anggota bahkan Wakil Ketua DPRD, Indira memiliki basis elektoral yang terukur dan jelas, sehingga sembari mempertahankan basisnya juga bekerja memperluas area elektoralnya, dengan demikian memberikan supporting kuat untuk memenangkan pertarungan pilwakot.

Keempat, DP ingin menegaskan respeknya kepada kaum perempuan, bahwa kehidupan dengan berbagai dimensi perjuangannya selalu ada perempuan sebagai pilar untuk menuju kesuksesan, ada doa-doa ibu maupun istri yang mengangkasa menembus arsy Allah SWT.

Ala kulli hal (atas segala sesuatu), dari berbagai potensi yang dimiliki paket DP-Indira ini, satu hal yang perlu ditegaskan oleh tim suksesnya adalah bahwa paket ini perpaduan figur berpengalaman dan generasi muda progresif dengan pendekatan-pendekatan yang inovatif bahkan think out of the box. Pengalaman, kebajikan dan pikiran yang melintasi zamannya diperlukan untuk memenangkan masa depan.

DP-Indira beserta timsesnya harus bekerja keras untuk menyakinkan pemilih bahwa program-program mereka dapat menjadi jembatan dalam mewujudkan makassar yang maju dan sejahtera. Wallahu'alam bisshawwab.

Oleh : Muzakkir Djabir
Direktur Eksekutif Pusat Studi dan Transformasi (PUSARAN) Indonesia, Jakarta