Kamis, 12 Oktober 2017 15:35 WITA

Laporan PBB Merinci Upaya Brutal Myanmar Usir Rohingya

Editor: Suriawati
Laporan PBB Merinci Upaya Brutal Myanmar Usir Rohingya
Seorang gadis Rohingya berusia delapan tahun di dalam sebuah kamp pengungsi dekat Cox's Bazar, Bangladesh. (Foto: Reuters)

RAKYATKU.COM - Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) mengatakan, pasukan keamanan Myanmar telah mengusir setengah juta Muslim Rohingya dari negara bagian Rakhine utara, serta membakar rumah, tanaman dan desa mereka untuk mencegah mereka kembali.

Dalam sebuah laporan berdasarkan 65 wawancara dengan Rohingya yang telah tiba di Bangladesh bulan lalu, OHCHR mengatakan bahwa "operasi pembersihan" telah dimulai sebelum serangan militan ARSA terhadap pos polisi pada tanggal 25 Agustus.

BACA JUGA: Perahu Pengungsi Rohingya Terbalik, 10 Anak Meninggal

"Informasi yang dapat dipercaya menunjukkan bahwa pasukan keamanan Myanmar sengaja menghancurkan harta milik orang-orang Rohingya, membakar tempat tinggal dan seluruh desa mereka di negara bagian Rakhine utara, tidak hanya untuk mengusir penduduk berbondong-bondong tetapi juga untuk mencegah korban Rohingya yang melarikan diri untuk kembali ke rumah mereka," kata laporan tersebut, dikutip dari The Guardian.

Laporan PBB Merinci Upaya Brutal Myanmar Usir RohingyaDikatakan bahwa penghancuran oleh pasukan keamanan, yang menargetkan rumah, ladang, persediaan makanan, tanaman pangan, dan ternak membuat kemungkinan Rohingya untuk kembali ke kehidupan normal di Rakhine utara "hampir tidak mungkin".

Jyoti Sanghera, Kepala Wilayah Asia dan Pasifik OHCHR meminta pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi untuk menghentikan kekerasan, dan menakut-natuki pengungsi Rohingya bahwa jika mereka kembali dari Bangladesh mereka mungkin diasingkan.

"Jika desa-desa hancur total dan kemungkinan penghidupan telah hancur, yang kita takuti adalah mereka dipenjara atau ditahan di kamp-kamp," katanya dalam sebuah briefing berita.

Sementara itu, Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia, Zeid Ra'ad al-Hussein mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tindakan militer Myanmar tampaknya merupakan "taktik sinis untuk memindahkan secara paksa sejumlah besar orang tanpa kemungkinan kembali".